|
 | Mupeng Aza Disini.. | Feb 1, 2007 |
Hallo para netter, aku akan menceritakan pengalamanku menjadi seorang
gigolo, cerita ini tidak dibuat-buat, cerita ini benar-benar terjadi.
Namaku dedi, umur 24 tahun. Aku seorang gigolo di kota Bandung. Aku
akan menceritakan pengalamanku melayani sekaligus 4 pelangganku dalam
semalam. Aku menggeluti profesi ini sudah 4 tahun, dan sejak itu aku
mempunyai pelanggan tetap namanya Tante Mira (bukan nama asli), dia
seorang janda tidak mempunyai anak, tinggal di Bandung, orangnya
cantik, putih, payudaranya besar walaupun sudah kendor sedikit, dia
keturunan tionghoa. Dia seorang yang kaya, memiliki beberapa perusahaan
di Bandung dan Jakarta, dan memeiliki saham di sebuah hotel berbintang
di Bandung.
Sabtu pukul 7 pagi, HP-ku berbunyi dan terdengar suara seorang wanita, dan kulihat ternyata nomor HP Tante Mira.
"Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?" katanya.
"Oh Tante.. ada apa nich, tumben nelpon pagi-pagi?" kataku.
"Kamu nanti sore ada acara nggak?" katanya.
"Nggak ada Tante.. emang mo ke mana Tante?" tanyaku.
"Nggak, nanti sore anter Tante ke puncak yach sama relasi Tante, bisa khan?" katanya.
"Bisa tante.. aku siap kok?" jawabku.
"Oke deh Say.. nanti sore Tante jemput kamu di tempatmu", katanya.
"Oke.. Tante", balasku, dengan itu juga pembicaraan di HP terputus dan aku pun beranjak ke kamar mandi untuk mandi.
Sore jam 5, aku sudah siap-siap dan berpakaian rapi karena Tante
Mira akan membawa teman relasinya. Selang beberapa menit sebuah mobil
mercy new eye warnah hitam berkaca gelap berhenti di depan rumahku.
Ternyata itu mobil Tante Mira, langsung aku keluar menghampiri mobil
itu sesudah aku mengunci seluruh pintu rumah dan jendela.
Aku pun langsung masuk ke dalam mobil itu duduk di jok belakang,
setelah masuk mobil pun bergerak maju menuju tujuan. Di dalam mobil,
aku diperkenalkan kepada dua cewek relasinya oleh tante, gila mereka
cantik-cantik walaupun umur mereka sudah 40 tahun, namanya Tante Lisa
umurnya 41 tahun kulitnya putih, payudaranya besar, dia merupakan istri
seorang pengusaha kaya di Jakarta dan Tante Meri 39 tahun, payudaranya
juga besar, kulitnya putih, juga seorang istri pengusaha di Jakarta.
Mereka adalah relasi bisnis Tante Mira dari Jakarta yang sedang
melakukan bisnis di Bandung, dan diajak oleh Tante Mira refreshing ke
villanya di kawasan Puncak. Keduanya keturunan Tionghoa.
Di dalam mobil, kami pun terlibat obralan ngalor-ngidul, dan mereka
diberitahu bahwa aku ini seorang gigolo langganannya dan mereka juga
mengatakan ingin mencoba kehebatanku.
Selang beberapa menit obrolan pun berhenti, dan kulihat Tante Lisa
yang duduk di sebelahku, di sofa belakang, tangannya mulai nakal
meraba-raba paha dan selangkanganku. Aku mengerti maksudnya, kugeser
dudukku dan berdekatan dengan Tante Lisa, lalu tangan Tante Lisa,
meremas batang kemaluanku dari balik celana. Dengan inisatifku sendiri,
aku membuka reitsleting celana panjangku dan mengeluarkan batang
kemaluanku yang sudah tegak berdiri dan besar itu. Tante Lisa kaget dan
matanya melotot ketika melihat batang kemaluanku besar dan sudah
membengkak itu. Tante Lisa langsung bicara kepadaku, "Wow.. Ded, kontol
kamu gede amat, punya suamiku aja kalah besar sama punya kamu.."
katanya.
"Masa sich Tante", kataku sambil tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya.
"Iya.. boleh minta nggak, Tante pengen ngerasain kontol kamu ini
sambil kontolku dikocok-kocok dan diremas-remas, lalu dibelai mesra?"
katanya.
"Boleh aja.. kapan pun Tante mau, pasti Dedi kasih", kataku yang
langsung disambut Tante Lisa dengan membungkukkan badannya lalu batang
kemaluanku dijilat-jilat dan dimasukakkan ke dalam mulutnya, dengan
rakusnya batang kemaluanku masuk semua ke dalam mulutnya sambil
disedot-sedot dan dikocok-kocok.
Tante Meri yang duduk di jok depan sesekali menelan air liurnya dan
tertawa kecil melihat batang kemaluanku yang sedang asyik dinikmati
oleh Tante Lisa. Tnganku mulai membuka beberapa kancing baju Tante Lisa
dan mengeluarkan kedua payudaranya yang besar itu dari balik BH-nya.
lalu kuremas-remas.
"Tante.. susu tante besar sekali.. boleh Dedi minta?" tanyaku.
Tante Lisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu tanganku
mulai meremas-remas payudaranya. Tangan kiriku mulai turun ke bawah
selangkangannya, dan aku mengelus-ngelus paha yang putih mulus itu lalu
naik ke atas selangkangannya, dari balik CD-nya jariku masuk ke dalam
liang kewanitaannya. Saat jariku masuk, mata Tante Lisa merem melek dan
medesah kenikmatan, "Akhhh.. akhhhh.. akhhh.. terus sayang.."
Beberapa jam kemudian, aku sudah tidak tahan mau keluar.
"Tante... Dedi mau keluar nich.." kataku.
"Keluarain di mulut Tante aja", katanya.
Selang beberapa menit, "Crooot.. crooot.. crottt.." air maniku
keluar, muncrat di dalam mulut Tante Lisa, lalu Tante Lisa menyapu
bersih seluruh air maniku.
Kemudian aku pun merobah posisi. Kini aku yang membungkukkan
badanku, dan mulai menyingkap rok dan melepaskan CD warna hitam yang
dipakainya. Setelah CD-nya terlepas, aku mulai mencium dan menjilat
liang kewanitaannya yang sudah basah itu. Aku masih terus memainkan
liang kewanitaannya sambil tanganku dimasukkan ke liang senggamanya dan
tangan kiriku meremas-remas payudara yang kiri dan kanan.
Sepuluh menit kemudian, aku merubah posisi. Kini Tante Lisa
kupangku dan kuarahkan batang kemaluanku masuk ke dalam liang
senggamanya, "Blesss.. belssss." batang kemaluanku masuk ke dalam liang
kewanitaannya, dan Tante Lisa menggelinjang kenikmatan, ku
naik-turunkan pinggul Tante Lisa, dan batang kemaluanku keluar masuk
dengan leluasa di liang kewanitaannya.
Satu jam kemudian, kami berdua sudah tidak kuat menahan orgasme,
kemudian kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaannya, lalu
kusuruh Tante Lisa untuk mengocok dan melumat batang kemaluanku dan
akhirnya, "Crooot.. crott.. croottt.." air maniku muncrat di dalam
mulut Tante Lisa. Seketika itu juga kami berdua terkulai lemas.
Kemudian aku pun tertidur di dalam mobil.
sesampainya di villa Tante Mira sekitar jam 8 malam. Lalu mobil
masuk ke dalam pekarangan villa. Kami berempat keluar dari mobil. Tante
Mira memanggil penjaga villa, lalu menyuruhnya untuk pulang dan
disuruhnya besok sore kembali lagi.
kami berempat pun masuk ke dalam villa, karena lelah dalam
perjalanan aku langsung menuju kamar tidur yang biasa kutempati saat
aku diajak ke villa Tante Mira. Begitu aku masuk ke dalam kamar dan
hendak tidur-tiduran, aku terkejut ketika ke 3 tante itu masuk ke dalam
kamarku dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelain benang pun yang
menempel di tubuhnya. Kemudian mereka naik ke atas tempat tidurku dan
mendorongku untuk tiduran, lalu mereka berhasil melucuti pakaianku
hingga bugil. Batang kemaluanku diserang oleh Tante Meri dan Tante
Mira, sedangkan Tante Lisa kusuruh dia mengangkang di atas wajahku,
lalu mulai menjilati dan menciumi liang kewanitaan Tante Lisa.
Dengan ganasnya mereka berdua secara bergantian menjilati, menyedot
dan mengocok batang kemaluanku, hingga aku kewalahan dan merasakan
nikmat yang luar biasa. Kemudian kulihat Tante Meri sedang mengatur
posisi mengangkang di selangkanganku dan mengarahkan batang kemaluanku
ke liang kewanitaannya, "Blesss.. bleeesss.." batang kemaluanku masuk
ke dalam liang kewanitaan Tante Meri, lalu Tante Meri menaik turunkan
pinggulnya dan aku merasakan liang kewanitaan yang hangat dan sudah
basah itu. Aku terus menjilat-jilat dan sesekali memasukkan jariku ke
dalam liang kewanitaan Tante Lisa, sedangakan Tante Mira meremas-remas
payudara Tante Meri.
Beberapa jam kemudian, Tante Meri sudah orgasme dan Tante Meri
terkulai lemas dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sebelahku sambil
mencium pipiku. Kini giliran Tante Mira yang naik di selangkanganku dan
mulai memasukan batang kemaluanku yang masih tegak berdiri ke liang
senggamanya, "Bleesss.. bleesss.." batang kemaluanku pun masuk ke dalam
liang kewanitaan Tante Mira. Sama seperti Tante Meri, pinggul Tante
Mira dinaik-turunkan dan diputar-putar.
Setengah jam kemudian, Tante Mira sudah mencapai puncak orgasme
juga dan dia terkulai lemas juga, langsung kucabut batang kemaluanku
dari liang kewanitaan Tante Mira, lalu kusuruh Tante Lisa untuk berdiri
sebentar, dan aku mengajaknya untuk duduk di atas meja rias yang ada di
kamar itu, lalu kubuka lebar-lebar kedua pahanya dan kuarahkan batang
kemaluanku ke liang kewanitaannya, "Blesss.. .bleeess.." batang
kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Lisa. Kukocok-kocok
maju mundur batang kemaluanku di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, dan
terdengar desahan hebat, "Akhhh.. akhhh.. akhhh.. terus sayang..
enak.." Aku terus mengocok senjataku, selang beberapa menit aku
mengubah posisi, kusuruh dia membungkuk dengan gaya doggy style lalu
kumasukan batang kemaluanku dari arah belakang. "Akhhh.. akhhh.."
terdengar lagi desahan Tante Lisa. Aku tidak peduli dengan
desahan-desahannya, aku terus mengocok-ngocok batang kemaluanku di
liang kewanitaannya sambil tanganku meremas-remas kedua buah dada yang
besar putih yang bergoyang-goyang menggantung itu.
Aku merasakan liang kewanitaan Tante Lisa basah dan ternyata Tante
Lisa sudah keluar. Aku merubah posisi, kini Tante Lisa kusuruh tiduran
di lantai, di atas karpet dan kubuka lebar-lebar pahanya dan kuangkat
kedua kakinya lalu kumasukkan batang kemaluanku ke dalam liang
kewanitaannya, "Blesss.. blessss.. blessss.." batang kemaluanku masuk
dan mulai bekerja kembali mengocok-ngocok di dalam liang kewanitaannya.
Selang beberapa menit, aku sudah tidak tahan lagi, lalu kutanya ke
Tante Lisa, "Tante, aku mau keluar nich.. di dalam apa di luar?"
tanyaku.
"Di dalam aja Sayang.." pintanya.
Kemudian, "Crottt.. crooottt.. croottt.." air maniku muncrat di
dalam liang kewanitaan Tante Lisa, kemudian aku jatuh terkulai lemas
menindih tubuh Tante Lisa sedangkan kejantananku masih manancap dengan
perkasanya di dalam liang kewanitaannya.
Kami berempat pun tidur di kamarku, keesokan harinya kami berempat
melakukan hal yang sama di depan TV dekat perapian, di kamar mandi,
maupun di dapur.
Bila ada tante-tante atau cewek-cewek yang kesepian atau butuh
kehangatan dan kejantanan seorang pria atau ada yang mau mencoba
kejantananku, bisa hubungi e-mail web ini.
 | ayah | Apr 21, '07 1:41 AM for everyone |
Namaku Reni. Usiaku hampir mendekati kepala tiga. Sudah menikah sejak
lima tahun yang lalu namun belum dikarunia anak. Suamiku berusia lebih
tua dariku dengan jarak yang cukup jauh. Kehidupan kami bisa dibilang
bahagia, bisa juga dibilang tidak. Dalam kehidupan sehari-hari, antara
aku dan suamiku tidak ada permasalahan yang pelik dan tidak mengancam
pernikahan kami. Hanya saja dalam masalah kehidupan seksual ada sedikit
permasalahan yang menurut kami berdua bukan merupakan ancaman.
Kondisi ini mungkin akibat belum adanya tanda-tanda kami akan
dikaruniai seorang anak. Kami rasakan hubungan intim antara aku dan
suami jadi hambar, tidak seperti tahun-tahun pertama pernikahan kami
yang penuh dengan gelora, penuh dengan cinta yang membara. Dan saat ini
kami melakukannya hanya sekedar kewajiban saja, tidak seperti dulu.
Nampaknya kami pun tidak mempermasalahkan ini. Akhirnya kami jadi sibuk
mencari kegiatan masing-masing untuk menghilangkan kejenuhan ini.
Suamiku semakin giat bekerja dan usahanya semakin maju. Aku pun
demikian dengan mencari kegiatan lain yang bisa menhgilangkan
kejenuhanku. Kami sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing
sehingga waktu untuk bermesraan semakin jarang. Namun kelihatannya kami
bisa menikmati kehidupan seperti ini dan tidak mengakibatkan
permasalahan yang berarti.
Keadaan ini berlangsung cukup lama hingga suatu saat terjadi hal
baru yang mewarnai kehidupan kami, khususnya kehidupan pribadiku
sendiri. Ketika itu kami mendapat khabar bahwa ayahku yang berada di
lain kota bermaksud datang ke tempat kami. Suamiku langsung menyatakan
kegembiraannya dan tanpa menunggu persetujuanku ia mengharapkan ayahku
cepat-cepat datang. Dia bilang sudah sangat rindu sekali karena bisa
bertemu kembali setelah pertemuan terakhir ketika kami menikah dahulu.
Demikian pula dengan ayahku, katanya kepada suamiku mengatakan bahwa ia
pun sangat rindu terutama kepadaku, anaknya yang tersayang. Aku hanya
bisa memandang suamiku yang tengah menerima telepon dengan perasaan
gundah.
Setelah mendapat khabar itu, aku jadi sering melamun. Aku jadi
gelisah menunggu kedatangan ayahku. Sebenarnya ia bukan ayah kandungku.
Ia aalah ayah tiri. Ia menikahi ibuku ketika aku sudah remaja. Ketika
itu ayahku masih bujangan dan usianya berbeda cukup jauh dengan ibuku.
Kehidupan kami saat itu berlangsung normal. Tahun demi tahun berjalan
dan akupun mulai tumbuh semakin dewasa. Permasalahan mulai muncul
ketika ibuku mulai sakit-sakitan. Mungkin juga karena usia.
Di sinilah awal dari segalanya. Ayahku yang masih muda dan penuh
vitalitas merasa kurang terpenuhi kebutuhannya dan mulai mencari-cari
jalan keluarnya. Celakanya, yang menjadi sasaran adalah diriku sendiri.
Saat itu aku masih sangat muda dan tidak mengerti apa-apa. Ayahku ini
sangat pandai mengelabuiku sehingga akhirnya aku terperangkap oleh
semua akal bulusnya. Aku tidak berani mengadukan hal ini kepada ibu.
Takut malah akan membuatnya semakin parah. Tetapi aku pun tak bisa
menjamin bahwa ia tidak mengetahui apa yang terjadi antara ayah dengan
diriku. Sampai akhirnya ibuku wafat meninggalkanku sendiri, anak semata
wayangnya, untuk dititipkan pada ayah.
Sepeninggal ibu, ayah semakin menjadi-jadi. Aku tak bisa berbuat
banyak karena hidupku sangat tergantung kepadanya. Beruntunglah
beberapa tahun kemudian aku mendapatkan jodoh dan menikah dengan
suamiku yang sekarang. Aku diboyong meninggalkan rumahku ke kota yang
sangat jauh jaraknya. Itulah pengalaman yang sangat kusesalkan hingga
hari ini.
"Hei, sayang!" tiba-tiba suamiku membuyarkan lamunanku.
"Kok malah ngelamun? Ayo kita berangkat sekarang, kasihan nanti
ayahmu terlalu lama menunggu di stasiun kereta", lanjutnya seraya
mengambil kunci mobil untuk segera berangkat menjemput ayah.
Ketika sampai di stasiun, suamiku langsung mencari-cari ayahku
sementara aku mengikutinya dari belakang dengan perasaan serba tak
karuan. Gelisah, khawatir serta ada sedikit rasa rindu karena sudah
lama tak bertemu, bercampur menjadi satu. Suamiku langsung berteriak
gembira ketika menemukan sosok seorang pria yang tengah duduk sendiri
di ruang tunggu. Orang itu langsung berdiri dan menghampiri kami. Ia
lalu berpelukan dengan suamiku. Saling melepas rindu. Aku memperhatikan
mereka. Aku agak terkesima karena ternyata ayahku tak berubah banyak
dari ketika kutinggalkan dahulu. Ia nampak masih muda, meski kulihat
ada beberapa helai uban di rambutnya. Tubuhnya masih tegap dan berotot.
Kelihatannya ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya berolah raga
sejak dulu.
"Hei Reni. Apa khabar, sayangku", sapa ayah kemudian ketika selesai berpelukan dengan suamiku.
"Ayah, apa khabar? Sehat-sehat saja khan?" balasku setengah terpaksa untuk berbasa-basi.
Ayahku mengembangkan kedua tangannya sambil menghampiriku. Aku
sempat bingung menghadapinya dan dengan spontan melirik pada suamiku
yang kelihatannya seperti tahu apa yang kupikirkan. Ia menganggukan
kepalanya seolah menyuruhku untuk menyambut rentangan tangan ayah.
Aku lalu menghampiri ayahku. Ia langsung menyambutnya dengan
memelukku. Aku terpana dengan pelukannya yang erat dan kurasakan ayahku
sesenggukan. Menangis sambil berbisik betapa rindunya ia padaku. Aku
jadi tak tega dan dengan refleks, balas memeluknya sambil berkata bahwa
aku baik-baik saja dan merasa rindu juga kepadanya.
Ia bersyukur bahwa masih ada orang yang merindukannya sambil terus
memelukku dengan erat. Aku jadi serba salah. Pelukannya jadi lain dan
bahkan aku merasa tubuhnya sengaja didesakan padaku. Aku berusaha untuk
mendorongnya secara halus dan jangan sampai hal ini diketahui suamiku.
Ayahku masih juga genit! Ia sengaja menggesek-gesekan tubuhnya padaku!
Dasar lelaki celamitan, runtukku dalam hati.
"Ayo kita ke rumah", kata suamiku kemudian. Aku bersyukur bisa terlepas dari pelukannya dan buru-buru menjauh.
Aku lalu dengan sengaja memamerkan kemesraan dihadapan ayahku
dengan memeluk pinggang suamiku sambil menyandarkan kepala di dadanya.
Suamiku balas memeluk sambil berjalan menuju tempat parkir sementara
ayahku hanya tersenyum melihat semua ini. Aku tak tahu apa arti senyum
itu. Aku hanya ingin memperlihatkan semua ini kepadanya. Aku juga tak
tahu apakah aku ingin membuatnya cemburu atau apa?
Sejak adanya ayah di rumah, memang ada perubahan yang cukup berarti
dalam kehidupan kami. Sekarang suasana di rumah lebih hangat, penuh
canda dan gelak tawa. Ayahku memang pandai membawa diri, pandai
mengambil hati orang. Termasuk suamiku. Ia begitu senang dengan
kehadirannya. Ia jadi lebih betah di rumah. Ngobrol bersama,
jalan-jalan bersama. Dan yang lebih menggembirakan lagi, suamiku jadi
lebih mesra kepadaku. Ia jadi sering mengajakku berhubungan intim. Aku
turut gembira dengan perubahan ini. Tadinya aku sempat khawatir akan
kehadiran ayah yang akan membuat masalah baru. Tetapi ternyata tidak.
Justru sebaliknya!
Namun dibalik itu aku agak was-was juga karena kemesraan suamiku
ternyata atas saran ayahku. Katanya ia banyak memberi nasihat bagaimana
cara membahagiakan seorang istri. Hah? Aku terperanjat mendengar ini.
Jangan-jangan..? Akh.., aku tak mau berpikir sejauh itu. Rasa
kekhawatiranku ternyata beralasan juga. Karena seringkali secara
diam-diam, ayah menatapku. Dari tatapannya aku sudah bisa menduga. Ia
sudah mulai berani menggodaku meski hanya berupa senyuman ataupun
kerlingan nakal. Aku tak pernah melayaninya. Aku tak mau suamiku tahu
akan hal ini.
Kekhawatiran berkembang menjadi rasa takut. Malam itu suamiku
memberitahu bahwa ia akan pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya
selama beberapa hari. Aku terkejut dan berupaya mencegahnya agar jangan
pergi.
"Memangnya kenapa? Toh biasanya juga aku suka keluar kota untuk bisnis, bukan untuk main-main", katanya kemudian.
"Bukan itu. Aku masih kangen sama kamu", jawabku mencari alasan.
"Aku cuma tiga hari. Mungkin kalau bisa cepet selesai, bisa dua hari aku sudah kembali", kata suamiku lagi.
"Kamu di sini kan ada ayah, juga Si Inah. Jadi tak perlu takut ditinggal sendiri."
Justru itu yang kutakutkan, kataku tetapi hanya dalam hati. Aku tak
bisa mencari alasn lain lagi karena khawatir justru dia malah curiga
dan semuanya jadi ketahuan. Akhirnya aku hanya bisa mengiyakan dan
berpesan agar dia cepat-cepat pulang.
Hari pertama kepergian suamiku ke luar kota tak ada peristiwa yang
mengkhawatirkan meski ayahku lebih berani menggoda. Ada saja alasannya
agar aku bisa berdekatan dengannya. Bikinkan kopi lah, ambilkan Koran
lah dan entah apa lagi alasannya. Ia mencoba menggoda dengan memegang
tanganku pada saat memberikan Koran padanya. Buru-buru kutarik tanganku
dan pergi ke kamar meninggalkannya.
Aku jadi semakin hati-hati terhadapnya. Pintu kamar selalu kukunci
dari dalam. Tetapi masih saja aku kecolongan sampai suatu ketika
terulang kembali perisitiwa masa lalu yang sering kusesalkan. Sore itu
aku habis senam seperti biasanya sekali dalam seminggu. Setelah mandi
aku langsung makan untuk kemudian istirahat di kamar. Mungkin karena
badan terasa penat dan pegal sehabis senam, aku jadi mengantuk dan
langsung tertidur. Celakanya, aku lupa mengunci pintu kamar. Setengah
bermimpi, aku merasakan tubuhku begitu nyaman. Rasa penat dan
pegal-pegal tadi berangsur hilang. Bahkan aku merasakan tubuhku
bereaksi aneh. Rasa nyaman sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu
yang membuatku melayang-layang. Aku seperti dibuai oleh hembusan angin
semilir yang menerpa bagian-bagian peka di tubuhku. Tanpa sadar aku
menggeliat merasakan semua ini sambil melenguh perlahan.
Dalam tidurku, aku mengira ini perbuatan suamiku yang memang
akhir-akhir ini suka mencumbuku di kala tidur. Namun begitu ingat bahwa
ia masih di luar kota, aku segera terbangun dan membuka mataku
lebar-lebar. Hampir saja aku menjerit sekuat tenaga begitu melihat ayah
sambil tersenyum tengah menciumi betisku, sementara dasterku sudah
terangkat tinggi-tinggi hingga memperlihatkan seluruh pahaku yang putih
mulus.
"Ayah! Ngapain ke sini?" bentakku dengan suara tertahan karena takut terdengar oleh Si Inah pembantuku.
"Reni, maafkan ayah. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang", ia malah berkata seperti itu bukannya malu didamprat olehku.
"Ayah nggak boleh. Keluar, saya mohon", pintaku menghiba karena
kulihat tatapan mata ayah demikian liar menggerayang ke sekujur
tubuhku.
Aku buru-buru menurunkan daster menutupi pahaku. Aku beringsut
menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Ayah kembali menghampiriku dan
duduk persis di sampingku. Tubuhnya mepet kepadaku. Aku semakin
ketakutan.
"Kamu tidak kasihan melihat ayah seperti ini? Ayolah, kita khan pernah melakukannya", desaknya.
"Jangan bicarakan masa lalu. Aku sudah melupakannya dan tak akan
pernah mengulanginya", jawabku dengan marah karena diingatkan
perisitiwa yang paling kusesali.
"OK. Ayah nggak akan cerita itu lagi. Tapi kasihanilah ayahmu ini.
Sudah bertahun-tahun tidak pernah merasakannya lagi", lanjutnya
kemudian.
Ayah lalu bercerita bahw ia tak pernah berhubungan dengan wanita
lain selain ibu dan diriku. Dia tak pernah merasa tertarik selain
dengan kami. Aku setengah tak percaya mendengar omongannya. Ia memang
pandai sekali membuat wanita tersanjung. Dan entah kenapa akupun
merasakan hal seperti itu. Ketika kutatap wajahnya, aku jadi trenyuh
dan berpikir bagaimana caranya untuk menurunkan hasrat ayah yang
kelihatan sudah menggebu-gebu. Aku tahu persis ayah akan berbuat apapun
bila sudah dalam keadaan seperti ini. Akhirnya aku mengalah dan mau
mengocok batangnya agar ia bisa tenang kembali.
"Baiklah..", kata ayahku seakan tidak punya pilihan lain karena aku ngotot tak akan memberikan apa yang dimintanya.
Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu yakin bahwa jalan keluar
ini akan meredam keganasannya. Kupikir biasanya lelaki kalau sudah
tersalurkan pasti akan surut nafsunya untuk kemudian tertidur. Aku lalu
menarik celana pendeknya. Ugh! Sialan, ternyata dia sudah tidak memakai
celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik, batangnya langsung
melonjak berdiri seperti ada pernya. Aku agak terkesima juga melihat
batang ayah yang masih gagah perkasa, padahal usianya sudah tidak muda
lagi.
Tanganku bergerak canggung. Bagaimananpun juga baru kali ini aku
memegang kontol orang selain milik suamiku meski dulu pernah
merasakannya juga. Tapi itu dulu sekali. Perlahan-lahan tanganku
menggenggam batangnya. Kudengar ayah melenguh seraya menyebut namaku.
Aku mendongak melirik kepadanya. Nampak wajah ayah meringis menahan
remasan lembut tangannku pada batangnya. Aku mulai bergerak turun naik
menyusuri batangnya yang sudah teramat keras. Sekali-sekali ujung
telunjukku mengusap moncongnya yang sudah licin oleh cairan yang
meleleh dari liangnya. Kudengar ayah kembali melenguh merasakan ngilu
akibat usapanku. Aku tahu ayah sudah sangat bernafsu sekali dan mungkin
dalam beberapa kali kocokan ia akan menyemburkan air maninya. Selesai
sudah, pikirku mulai tenang.
Dua menit, tiga sampai lima menit berikutnya ayah masih bertahan
meski kocokanku sudah semakin cepat. Kurasakan tangan ayah menggerayang
ke arah dadaku. Aku kembali mengingatkan agar jangan berbuat
macam-macam.
"Biar cepet keluar..", kata ayah memberi alasan.
Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menepisnya karena kupikir ada
benarnya juga. Biar cepat selesai, kataku dalam hati. Ayah tersenyum
melihatku tidak melarangnya lagi. Ia dengan lembut mulai meremas-remas
payudara di balik dasterku. Aku memang tidak mengenakan kutang setiap
akan tidur, jadi remasan tangan ayah langsung terasa karena kain daster
itu sangat tipis. Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan atas
remasan ini. Apalagi tanganku menggenggam batangnya dengan erat,
setidaknya aku mulai terpengaruh oleh keadaan ini. Meski dalam hati aku
sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan
diriku juga. Karena tentunya setelah ini selesai ayah tidak akan
berbuat lebih jauh lagi seperti dulu.
"Reni sayang.., buka ya? Sedikit aja..", pinta ayah kemudian.
"Jangan Yah. Tadi khan sudah janji nggak akan macam-macam..", ujarku mengingatkan.
"Sedikit aja. Ya?" desaknya lagi seraya menggeser tali daster dari pundakku sehingga bagian atas tubuhku terbuka.
Aku jadi gamang dan serba salah. Sementara bagian dada hingga ke
pinggang sudah telanjang. Nafas ayahku semakin memburu kencang
melihatku setengah telanjang.
"Oh.., Reni kamu benar-benar cantik sekali", pujinya sambil memilin-milin putting susuku.
Aku terperangah. Situasi sudah mulai mengarah pada hal yang tidak
kuinginkan. Aku harus bertindak cepat. Tanpa pikir panjang, langsung
kumasukan batang ayah ke dalam mulutku dan mengulumnya sebisa mungkin
agar ia cepat-cepat selesai dan tidak berlanjut lebih jauh lagi. Aku
sudah tidak memperdulikan perbuatan ayah pada tubuhku. Aku biarkan
tangannya dengan leluasa menggerayang ke sekujur tubuhku, bahkan ketika
kurasakan bibirnya mulai menciumi buah dadaku pun aku tak berusaha
mencegahnya. Aku lebih berkonsentrasi untuk menyelesaikan semua ini
secepatnya. Jilatan dan kulumanku pada batang kontolnya semakin
mengganas sampai-sampai ayahku terengah-engah merasakan kelihaian
permainan mulutku.
Aku tambah bersemangat dan semakin yakin dengan kemampuanku untuk
membuatnya segera selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal
bagiku. Sudah hampir setengah jam, aku belum melihat tanda-tanda apapun
dari ayahku. Aku jadi penasaran, sekaligus merasa tertantang. Suamiku
pun yang sudah terbiasa denganku, bila sudah kukeluarkan kemampuan
seperti ini pasti takkan bertahan lama. Tapi kenapa dengan ayahku? Apa
ia memakai obat kuat?
Saking penasarannya, aku jadi kurang memperhatikan perbuatan ayah
padaku. Entah sejak kapan daster tidurku sudah terlepas dari tubuhku.
Aku baru sadar ketika ayah berusaha menarik celana dalamku dan itu pun
terlambat! Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas dari
ujung kakiku. Aku sudah telanjang bulat! Ya ampun, kenapa kubiarkan
semua ini terjadi. Aku menyesal kenapa memulainya. Ternyata kejadiannya
tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong dengan
keyakinanku. Kini semuanya sudah terlambat. Berantakan semuanya!
Pekikku dalam hati penuh penyesalan.
Situasi semakin tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan. Ayah
dengan lihainya dan tanpa kusadari sudah membalikkan tubuhku hingga
berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya
sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi
enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di seputar
selangkanganku. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit
lirih. Suka tidak suka, mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan
ayahku di sekitar itu. Akh luar biasa! Aku menjerit dalam hati sambil
menyesali diri. Aku marah pada diriku sendiri, terutama pada tubuhku
sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku.
Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidah ayah. Kedua
pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajah itu ke dalam
selangkanganku. Kuakui ia memang pandai membuat birahiku memuncak. Kini
aku sudah lupa dengan siasat semula. Aku sudah terbawa arus. Aku malah
ingin mengimbangi permainannya. Mulutku bermain dengan lincah.
Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh dan masih
kenyal.
Sementara kontol itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak
pernah lepas mengulumnya. Tanpa kusadari kami saling mencumbu bagian
vital masing-masing selama lima belas menit. Aku semakin yakin kalau
ayah memakai obat kuat. Ia sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda
akan keluar, sementara aku sudah mulai merasakan desiran-desiran kuat
bergerak cepat ke arah pusat kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut
ayah benar-benar membuatku tak berdaya. Aku semakin tak terkendali.
Pinggulku meliuk-liuk liar. Tubuhku mengejang, seluruh aliran darah
serasa terhenti dan aku tak kuasa untuk menahan desakan kuat gelombang
lahar panas yang mengalir begitu cepat.
"Auugghh..!" aku menjerit lirih begitu aliran itu mendobrak pertahananku.
Kurasakan cairan kewanitaanku menyembur tak tertahankan. Tubuhku
menggelepar seperti ikan terlempar ke darat merasakan kenikmatan ini.
Aku terkulai lemas sementara batang kontol ayah yang berada dalam
genggamanku masih mengacung dengan gagahnya, bahkan terasa makin
kencang saja. Aku mengeluh karena tak punya pilihan lain. Sudah
kepalang basah. Aku hanya tergolek lemah tak berdaya saat ayah mulai
menindih tubuhku. Dengan lembut ia mengusap wajahku dan berkata betapa
cantiknya aku sekarang ini.
"Kau sungguh cantik. Kini kau sudah dewasa. Tubuhmu indah dan jauh
lebih berisi.., mmpphh..", katanya sambil menciumi bibirku, mencoba
membuka bibirku dengan lidahnya.
Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu
menggairahkanku. Aku diperlakukan bagai sebuah porselen yang mudah
pecah. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku semakin melambung tinggi
mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku. Wajahku yang cantik,
tubuhku yang indah dan kini jauh lebih berisi. Payudaraku yang
membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan perut yang
rata, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah
pantatku yang ‘bahenol’. Diwajah ayah kulihat memperlihatkan ekspresi
kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar ke arah lembah
bukit di sekitar selangkanganku yang dipenuhi bulu-bulu hitam lebat,
kontras dengan warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya
mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua
kakiku yang tadinya merapat.
Ayah menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar.
Kurasakan kontolnya ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek,
mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur
geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat
gesekannya semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah
merasakannya. Kelihatannya ia sengaja melakukan itu. Apalagi saat
moncong kontolnya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang.
Ayah menatap tajam melihat reaksiku. Aku balas menatap seolah
memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya.
Ia tahu persis apa yang kurasakan saat itu. Namun kelihatannya ia
ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang
aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang kontolnya dalam
memekku. Aku ingin segera membuatnya ‘KO’. Terus terang aku sangat
penasaran dengan keperkasaannya. Kuingin buktikan bahwa aku bisa
membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan.
"Yah..?" panggilku menghiba.
"Apa sayang", jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa.
"Cepetan.."
"Sabar sayang. Kamu ingin ayah berbuat apa?" tanyanya pura-pura tak mengerti.
Aku tak menjawab. Tentu saja aku malu mengatakannya secara terbuka
apa keinginanku saat itu. Namun ayah sepertinya ingin mendengarnya
langsung dari bibirku. Ia sengaja mengulur-ulur dengan hanya
menggesek-gesekan kontolnya. Sementara aku benar-benar sudah tak tahan
lagi mengekang birahiku.
"Reni ingin ayah segera masukin..", kataku akhirnya dengan terpaksa.
Aku sebenarnya sangat malu mengatkan ini. Aku yang tadi begitu
ngotot tidak akan memberikan tubuhku padanya, kini malah meminta-minta.
Perempuan macam apa aku ini!?
"Apanya yang dimasukin", tanyanya lagi seperti mengejek.
"Akh ayah. Jangan siksa Reni..!"
"Ayah tidak bermaksud menyiksa kamu sayang."
"Oohh.., ayah. Reni ingin masukin kontol ayah ke dalam memek
Reni..uuggh..", aku kali ini sudah tak malu-malu lagi mengatakannya
dengan vulgar saking tak tahannya menanggung gelombang birahi yang
menggebu-gebu.
Aku merasa seperti wanita jalang yang haus seks. Aku hampir tak
percaya mendengar ucapan itu keluar dari bibirku sendiri. Tapi apa mau
dikata, memang aku sangat menginginkannya segera.
"Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya", kata ayahku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku.
"Uugghh..", aku melenguh merasakan desakan batang kontolnya yang besar itu.
Aku menunggu cukup lama gerakan kontol ayah memasuki diriku. Serasa
tak sampai-sampai. Selain besar, kontol ayah cukup panjang juga. Aku
sampai menahan nafas saat batangnya terasa mentok di dalam. Rasanya
sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya
amblas di dalam. Ayah mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan.
Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya
cairan dalam liang memekku membuat kontol ayah keluar masuk dengan
lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan.
Naik turun mengikuti irama tusukannya.
Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah
liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku
tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku.
Ayah tahu persis apa yang kuinginkan. Ia bisa mengarahkan batangnya
dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di surga merasakan
kenikmatan yang luar biasa ini. Batang ayahku menjejal penuh seluruh
isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan
batang itu sangat terasa di seluruh dinding vaginaku.
"Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..", aku meintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini.
Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian ayahku di atas
ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas
kuberikan padanya. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga
bercinta dengannya meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan
akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. Tetapi saat itu aku
sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami.
Ayah bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk
daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran
yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku.
Sementara ayah dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun,
ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan
gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya. Melihat reaksiku,
ayah mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang
itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang
sempit itu akan terkoyak akibatnya.
Kulihat tubuh ayah sudah basah bermandikan keringat. Aku pun
demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu
kamar. Aku mencoba meraih tubuh ayah untuk mendekapnya. Dan disaat-saat
kritis, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya
sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya
yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di
samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara keduan
tanganku menggapai buah pantatnya dan menekannya kuat-kuat. Kurasakan
semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang
seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas
puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu.
"Ayah.., oohh.., Yaahh..", hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya.
"Sayang nikmatilah semua ini. Ayah ingin kamu dapat merasakan
kepuasan yang belum pernah kamu alami", bisik ayah dengan mesranya.
"Ayah sayang padamu, ayah cinta padamu. Ayah ingin melampiaskan
kerinduan yang menyesak selama ini..", lanjutnya tak henti-henti
membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantis.
Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya
dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Mengapa keindahan ini
kualami bersama ayahku sendiri, meski ayah tiri tetapi sudah seperti
ayah kandungku sendiri. Tanpa terasa air mata menitik jatuh ke pipi.
Ayah terkejut melihat ini. Ia nampak begitu khawatir melihatku
menangis.
"Reni sayang, kenapa menangis?" bisiknya buru-buru.
"Maafkan ayah kalau telah membuatmu menderita..", lanjutnya seraya
memeluk dan mengelus-elus rambutku dengan penuh kasih sayang.
Aku semakin sedih merasakan ini. Tetapi ini bukan hanya salahnya.
Aku pun berandil besar dalam kesalahan ini. Aku tidak bisa
menyalahkannya saja. Aku harus jujur dan adil menyikapinya.
"Ayah tidak salah. Reni yang salah..", kataku kemudian.
"Tidak sayang. Ayah yang salah", katanya besikeras.
"Kita, Yah. Kita sama-sama salah", kataku sekaligus memintanya untuk tidak memperdebatkan masalah ini lagi.
"Terima kasih sayang", kata ayahku seraya menciumi wajah dan bibirku.
Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan kembali
gairahku. Aku masih penasaran dengannya. Sampai saat ini ayah belum
juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum
terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami
kenikmatan seperti apa yang telah ia berikan kepadaku. Aku sadar kenapa
diriku menjadi antusias untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Biarlah
terjadi seperti ini, toh ayah tidak akan selamanya berada di sini. Ia
harus pulang ke kampungnya. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini
merupakan yang terakhir kalinya.
Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak
tadi ayah terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku.
Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh ayah hingga
terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan
sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai
tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut.
Tanganku mengocok-ngocok batangnya. Kulirik ayah kelihatannya menyukai
perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung
berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing
berada di samping kiri dan kanan tubuh ayah. Selangkanganku berada
persis di atas batangnya.
"Akh sayang!" pekik ayahku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang memekku.
Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya.
Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku
melonjak-lonjak seperti kuda binal yang sedang birahi. Aku tak ubahnya
seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada hidung belang.
Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun
naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku
persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya ngebor, ngecor,
patah-patah, bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku
mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada
ayahku sendiri!
"Ouugghh.. Renii.., luar biasa!" jerit ayah merasakan hebatnya permainanku.
Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan
ayah mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dipilin-pilin. Ia lalu
bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menciumi
putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas. Kami
berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan
panasnya udara meski kamarku menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah
peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat
mengaduk-aduk pinggulku. Ayah menggoyangkan pantatnya. Kurasakan
tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang
tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat.
Sprei ranjangku sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal
serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang
bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan ayah mulai memperlihatkan
tanda-tanda. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang.
Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat
ini.
Tak selang beberapa detik kemudian, akupun merasakan desakan yang
sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya.
Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris.
Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku
harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma. Kurasakan tubuh ayah
mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti
harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina binal yang sedang
birahi.
"Eerrgghh.. oouugghh..!" ayah berteriak panjang, tubuhnya menghentak-hentak liar.
Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan
sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan
dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. Semprotannya begitu kuat dan
banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan
desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku
berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengan
ayahku.
Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat.
Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang
itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani
tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terkilir atau terluka.
"Oohh.. ayaahh.., nikmaatthh!" jeritku tak tertahankan.
Tulang-tulangku serasa lolos dari persendiannya. Tubuhku lunglai,
lemas tak bertenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata
memakan waktu lebih dari 1 jam! Gila! Jeritku dalam hati. Belum pernah
rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya.
Aku hanya bisa memeluknya menikmati sisa-sisa kepuasan. Perasaanku
tiba-tiba terusik. Sepertinya aku mendengar sesuatu dari luar pintu
kamar, tetapi aku terlalu lelah untuk memperhatikannya dan akhirnya
tertidur dalam pelukan ayahku, melupakan semua konsekuensi dari
peristiwa di malam ini di kemudian hari.
Aku dan istriku, Risnawati yang biasa kupanggil dengan Ris, sudah
menikah kira-kira 4 tahun. Istriku saat ini berprofesi sebagai ibu
rumah tangga, meskipun sempat kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri.
Sedikit gambaran fisik tentang istriku, Ris pada saat ini berumur 29
tahun, berkulit putih, berambut ikal sepunggung, dengan payudara yang
cukup besar (34B) berbentuk bagus sekal, tinggi 155 cm, berat 50 kg,
dengan perut rata dan pinggang kecil namun sintal. Pinggulnya serasi
dengan bentuk badannya dan kedua bongkahan pantatnya sekali. Secara
umum, dia cukup seksi.
Telah lama kami mempunyai fantasi untuk melakukan aktifitas seks
three some. Biasanya, sebelum melakukan Making Love, kami mengawalinya
dengan saling menceritakan fantasinya masing-masing. Fantasi yang
paling merangsang bagi kami berdua, adalah membayangkan Ris melakukan
hubungan seks dengan laki-laki lain dengan kehadiranku. Sekedar
informasi, Ris memang mempunyai gairah seks yang sangat tinggi,
sementara di sisi lain, aku biasanya cuma sanggup ejakulasi satu kali.
Setelah ejakulasi, meskipun sekitar satu jam kemudian penisku bisa
ereksi lagi, umumnya aku merasa lelah dan tidak bergairah, mungkin
akibat beban pekerjaan yang cukup berat. Karenanya, biasanya ketika dia
minta agar bisa mencapai orgasme berikutnya, paling banter aku
melakukannya dengan tangan, atau membantunya bermasturbasi dengan
dildo. Walaupun demikian selama ini dia bisa merasa puas dengan cara
tsb.
Setelah sekian lama mempunyai fantasi tsb, suatu hari aku tanya
apakah ia mau merealisasikan fantasi tsb. Pada awalnya ia cuma
tersenyum dan mengira aku cuma bercanda. Namun setelah aku desak, ia
balik bertanya apakah aku serius. Aku jawab, ya aku serius. Terus dia
tanya lagi apakah nanti aku masih akan tetap sayang sama dia, aku jawab
ya, aku akan tetap menyayanginya sepenuh hati, sama seperti sekarang.
Lalu aku tambahkan, bahwa motivasi utama aku adalah untuk membuatnya
bahagia dan mencapai kepuasan setinggi-tingginya. Melihat wajahnya
ketika mencapai orgasme, selain sangat merangsang juga memberikan
kepuasan tersendiri bagiku.
Akhirnya dia jawab dia mau melakukannya kalau moodnya mengijinkan.
Kemudian aku dan Ris mendiskusikan kira-kira dengan siapa kami
melakukannya, akhirnya pilihan datang kepada seorang teman dekatku,
namanya Vence biasa kupanggil dengan Ven, yang telah lama kami kenal,
namun jarang bertemu karena tinggal di kota lain. Sejak itu sering
fantasi kami melibatkan kehadiran Ven. Usia Ven 33 tahun, sama
denganku, meski demikian tubuhnya lebih tinggi kurang lebih 175 cm dan
besar serta tegap, maklum dia adalah keturunan campuran
Eropa-Indonesia.
Akhirnya setelah beberapa bulan berlalu, aku menghubungi Ven dari
kantorku. Setelah berbasa-basi sebentar, lalu aku mulai menceritakan
tentang fantasi-fantasi kami. Sebagai sahabat lama, kami terbiasa
berbicara terbuka, termasuk masalah seks. Ven tampak antusias mendengar
ceritaku dan dia menyatakan kesanggupannya. Mengingat kesibukan
bisnisnya, dia merencanakan untuk datang ke kotaku sekitar 2-3 minggu
lagi. Tidak lupa aku tegaskan, bahwa semua rencana ini sepenuhnya
bergantung kepada kesediaan istriku. Artinya jika pada saat-saat
terakhir Ris berubah pikiran, maka sama sekali tidak boleh ada satu
pihakpun yang memaksakan kehendaknya. Aku katakan juga, dia tidak boleh
berlaku kasar terhadap Ris, sebab kepuasan Ris adalah segala-galanya.
Ven setuju dan dapat memakluminya.
Akhirnya waktu yang yang ditunggu tiba, baik Ris maupun aku cukup
gugup menghadapi apa yang telah kita rencanakan. Namun aku meyakinkan
Ris bahwa dia boleh berubah pikiran kapanpun. Sekitar pukul 6 sore Ven
datang, pada saat itu aku masih berada di kantor, Ris mengabarkan
kedatangannya melalui telepon. Pukul 7 aku tiba di rumah, tampak Ven
telah mandi dan ganti baju dan sedang menonton TV. Sementara itu Ris
sedang berada di kamar mandi. Setelah ngobrol sebentar, kemudian aku
masuk ke kamar untuk menyimpan tas dan mengganti pakaian. Pada saat
bersamaan Ris baru keluar dari kamar mandi (kamar mandi terletak di
dalam ruang tidur kami) dengan hanya memakai handuk. Dia tampak sangat
cantik malam itu. Sementara aku mengganti pakaian, Ris mengenakan
daster pendek berwarna merah. Ris tampak cantik dengan daster tersebut,
panjang daster tsb hanya sampai ke pertengahan paha, tampak kontras
dengan pahanya yang berwarna putih mulus. Sementara Ris masih menyisir
rambut dan memakai parfum, aku keluar menemui Ven.
Setelah beberapa saat kami mengobrol, bercerita tentang keadaan
masing-masing. Ris kemudian keluar kamar. Ven hampir tak berkedip
menatap Ris yang benar-benar tampil seksi malam itu. Singkat cerita,
setelah selesai makan malam kami sama-sama duduk di karpet, menonton
acara TV yang saat itu sedang berlangsung. Posisinya Ven, kemudian Ris
di tengah menyender di dadaku. Terus terang suasana saat itu agak
canggung dan kami benar-benar tidak tahu cara untuk memulai semua
rencana yang telah disusun.
Akhirnya aku mengambil inisiatif dengan mulai menyentuh dan
melingkarkan tangan di dada Ris dan menyentuh payudaranya dari luar
daster. Mendapat tindakan demikian Ris mulai terangsang dan nafasnya
mulai tidak teratur. Segera setelah itu, aku lumat bibirnya dan tangan
aku mulai menyusup ke balik dasternya. Ternyata saat itu Ris sudah
tidak memakai BH. Ris benar-benar terangsang kini. Pada saat itu tangan
Ven mulai mengelus-elus paha Ris yang telah terbuka, karena daster
mininya telah terangkat ke atas. Kaki Ris yang tadinya tertekuk
ditarik, sehingga sekarang Ris berada dalam posisi duduk sambil
bersandar padaku dengan kedua pahanya yang agak terbuka dan kaki
melonjor ke depan. Tangan Ven mulai bergerilya pada bagian paha atas
Ris.
Kemudian Ven menarik tangan Ris dan meletakkannya di atas pangkuan
Ven. Secara reflek, dalam keadaan terangsang, Ris mengusap-usap
kemaluan Ven yang telah tegang dari luar celananya. Bagian bawah celana
Ven terlihat menggembung besar. Aku mengira-ngira betapa besar kemaluan
Ven ini. Sementara bibirku mulai menyusur leher dan belakang telinganya
(bagian yang paling sensitif baginya). Setelah itu aku berbisik di
telinga Ris, inilah saat untuk merealisasikan fantasi kita. Lalu aku
melepaskan pelukanku untuk memberi kesempatan pada Ven untuk beraksi.
Sekarang Ven mulai mengambil alih permainan selanjutnya. Ditariknya
Ris ke pelukannya dan tangannya yang satu langsung mendekap payudara
Ris yang sebelah kanan, sedangkan tangannya yang satu mengelus-elus
punggung Ris sambil mulutnya melumat bibir Ris dengan gemas. Tangan Ven
yang berada di payudara Ris disisipkan pada belahan daster Ris yang
terbuka dan mulai memelintir dengan halus ujung putingnya yang telah
mengeras. Kemudian Ven menarik tangan Ris ke arah resluiting celana Ven
yang telah terbuka dan menyusupkan tangannya memegang kemaluan Ven yang
telah tegang itu. Kelihatan Ris agak tersentak ketika terpegang senjata
Ven yang tampaknya besar itu.
Setelah beberapa saat mengelusnya, kemudian Ris membuka celana Ven
sehingga kemaluannya tiba-tiba melonjak keluar, seakan-akan baru bebas
dari kungkungan dan sekarang dengan jelas terlihat. Aku sangat terkejut
melihat kemaluan Ven yang sangat besar dan panjang itu. Kemaluan yang
sebesar itu hanya ada di film-film BF barat saja. Batang penisnya
berdiameter 7 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan pada
ujung kepalanya berbentuk topi baja yang sangat besar, panjangnya
mungkin lebih dari 20 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi dengan
rambut pirang yang lebat.
Setelah keluar dari celananya kelihatan seram, jauh lebih panjang
dan besar dari punyaku. Sesaat Ris menoleh ke arahku, dari sinar
matanya yang agak panik, tampak dia agak ketakutan dan tidak menduga
akan menghadapi penis yang sebesar itu. Aku mulanya juga agak
ragu-ragu, tapi untuk menghentikan ini, kelihatannya sudah kepalang,
karena tidak enak hati pada Ven yang telah bersedia memenuhi keinginan
kami itu.
Kemudian aku mengangguk sambil tersenyum memberi semangat pada Ris.
Mendapatkan persetujuanku dan dorongan semangat itu, Ris kemudian
dengan kedua tangannya memegang penis Ven dan mulutnya mendekat ke
kemaluan Ven. Ris mulai menjilati kepala penis Ven yang besar itu.
Kemudian setelah cukup basah oleh air ludahnya, perlahan Ris mulai
memasukkan penis Ven ke dalam mulutnya. Terlihat sangat susah bagi Ris
untuk bisa memasukkan penis yang besar itu ke dalam mulutnya. Terlihat
mulutnya harus dibuka lebar-lebar untuk bisa menampung penis Ven yang
dahsyat itu. Ven tampak sangat menikmati isapan Ris itu.
Kira-kira sepuluh menit Ris mengulum kemaluan Ven, kemudian Ven
menarik kepala Ris dan mendekatkan ke mukanya dan kemudian melumat
bibir Ris. Ris balas melumat bibir Ven dengan ganasnya, sementara
tangan Ven merambah ke payudara Ris dan mulai membuka daster Ris.
Setelah daster terlepas, sambil tetap berciuman, tangan Ven mulai
menyusup ke balik celana dalam Ris yang berwarna cream sambil memainkan
clitoris Ris. Tangan Ris sendiri tidak tinggal diam, ia terus mengelus
kemaluan Ven yang semakin menegang.
Kemudian Ven menggendong Ris dan membawanya ke kamar tidur tamu.
Terlihat Ris sangat kecil dalam gendongannya, dibandingkan badan Ven
yang besar itu. Secara perlahan kemudian Ven meletakkan Ris di ranjang
dan membuka celana dalam Ris. Hingga kini Ris telah telanjang bulat.
Tampak kulitnya yang putih dan vaginanya yang tanpa rambut (Ris biasa
mencukur bulu vaginanya secara teratur) merekah dan tampak basah.
Kemudian Ven perlahan-lahan mengarahkan bibirnya ke leher Ris, kemudian
turun ke dadanya dan mulai melumat puting payudara Ris bergantian.
Sementara itu aku terus memperhatikan dari pintu kamar dengan
menahan birahi yang sangat memuncak. Setelah puas bermain-main di
payudara Ris, Ven kemudian mulai menciumi pusar Ris sampai akhirnya
mulai menjilati lubang vagina Ris yang semakin basah. Setelah
berlangsung kira-kira 30 menit, tampak Ris mulai mendekati orgasme,
mengetahui demikian, Ven kemudian mulai mengarahkan penisnya ke vagina
Ris yang makin merekah. Sebelum memasukkan penisnya, tidak lupa Ven
menggosok-gosok kepala penisnya pada bibir vagina Ris. Badan Ris
menggelinjang kegelian merasakan gosokan penis Ven pada vaginanya.
Perlahan-lahan Ven mulai memasukkan penisnya ke vagina Ris. Ris
berusaha membantu dengan membuka bibir vaginanya lebar-lebar.
Kelihatannya sangat sulit untuk penis sebesar itu masuk ke dalam lubang
vagina Ris yang kecil. Tangan Ven yang satu memegang pinggul Ris sambil
menariknya ke atas, sehingga pantat Ris agak terangkat dari tempat
tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang penisnya yang
ditekan masuk ke dalam vagina Ris.
Sementara Ven sedang berusaha memasukkan penisnya kedalam memek
Ris, badan Ris terlihat menggelinjang-gelinjang dan dari mulutnya
terdengar suara, "aahh..., aahh..., ssshh..., ssshh", seperti orang
sedang kepedasan. Pada waktu Ven mulai menekan penisnya, terdengar
jeritan tertahan dari mulut Ris, "Aduuhh..., sakiiitt..., Veenn...,
pelan-pelan..., doong". Ven agak menghentikan kegiatannya sebentar
untuk memberikan kesempatan pada Ris mengambil nafas, kemudian Ven
melanjutkan kembali usahanya untuk menaklukkan vagina Ris. Aku agak
kasihan juga melihat keadaan itu, disamping itu melihat badan Ris yang
menggeliat-geliat dan tangannya yang mencengkeram alas tempat tidur
dengan kuat, membuatku terangsang dengan hebat. Ven dengan pasti tetap
mendorong kemaluannya masuk secara perlahan-lahan ke dalam vagina Ris.
Akhirnya sesaat kemudian, hampir seluruh kemaluan Ven masuk ke
dalam vagina Ris. Ven kemudian menggerakkan penisnya keluar masuk
dengan irama yang teratur, sementara Ris mengimbangi dengan mengerakkan
pantatnya. Tidak lama kemudian, Ris mencapai klimaks. Tubuhnya
mengejang dan mulutnya mengeluarkan jeritan tertahan, "Aku sampaai
Veeenn..., peluk aku kuat-kuat". Bersamaan dengan itu, kakinya
melingkar di pinggang Ven dan mengunci dengan erat. Sementara Ven
hampir tidak bisa bergerak dan hanya menekankan kemaluannya ke dalam
vagina Ris sekuat mungkin. Tak lama, Ris mulai tampak rileks dan
melonggarkan kakinya yang melingkar di pinggang Ven.
Sementara Ven kemudian meneruskan gerakan keluar-masuk penisnya
secara perlahan-lahan dan Ris hanya diam kelelahan dengan nafas yang
tidak teratur. Tidak lama, tampaknya birahi Ris mulai bangkit lagi dan
menggerakkan pantatnya lagi. Maklum wanita kan bisa mengalami multiple
orgasme.
Tidak lama kemudian, Ven mencabut penisnya dari vagina Ris dan
meminta Ris untuk menungging. Kemudian Ven memasukkan kemaluannya ke
vagina Ris dari belakang. Aku yang sejak tadi hanya menyaksikan mulai
tidak tahan, kemudian aku mendekat, membuka celana, dan mengarahkan
kemaluanku yang sudah sangat tegang ke mulut Ris. Dengan sangat
bernafsu, Ris mengulum penisku sementara Ven tampak menggerakan
pinggulnya semakin cepat. Tidak lama kemudian tampaknya Ven hampir
mencapai klimaksnya dan mengerakkan pantatnya dengan sangat cepat. Ris
mengimbangi gerakan Ven dan melepaskan penisku dari mulutnya, sambil
mengeluarkan erangan Ris berkata, "Ayo Ven gerakkan yang cepat...,
ah..., uh". Setelah itu Ven ejakulasi dan menekankan pantatnya
rapat-rapat sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Ris. Dan
pada saat hampir bersamaan Ris pun kembali mencapai orgasme. Tak lama
Ven mencabut penisnya dan tidur telentang di samping Ris.
Aku kemudian duduk di kursi sofa yang ada di ruang tidur itu dan
menarik Ris. Perlahan Ris jongkok di atasku dan mulai menurunkan
vaginanya yang tampak membengkak ke arah kemaluanku (mungkin akibat
barang Ven yang sangat besar itu). Dengan mudah penisku masuk ke dalam
vagina Ris, maklum setelah cukup lama barang Ven yang besar itu keluar
masuk, membuat vagina Ris agak melar. Walau demikian, aku tidak bisa
menahan ejakulasi terlalu lama, mungkin akibat pengaruh situasi, tidak
lama penisku memuntahkan cairan sperma di dalam vagina Ris, sampai
meluber keluar.
Tampak Ven terbaring dengan lesu di ranjang dan aku di sofa.
Tampaknya energi kami benar-benar terkuras. Sementara Ris kemudian
pergi ke kamar mandi, untuk pipis dan membersihkan sisa-sisa spermaku
di vaginanya. Kira-kira setengah jam kami beristirahat, Ris
berinisiatif mengulum kemaluan Ven yang masih mengkerut. Sementara aku
hanya memperhatikan. Tidak lama, kemaluan Ven mulai membesar lagi
setelah beberapa saat dikulum. Ris kemudian mengangkangkan kakinya di
atas Ven yang telentang tidur dan menghadapkan wajahnya ke arah penis
Ven. Ven kemudian menjilati vagina Ris sampai ke lubang anusnya, dan
Ris sendiri sibuk mengulum dan menghisap penis Ven. Melihat pemandangan
ini, kemaluanku pun mulai menegang kembali.
Tak lama Ris bangun dan duduk di atas Ven, kemudian Ris memasukkan
penis Ven ke vaginanya dengan posisi Ris di atas. Ris menaik-turunkan
pantatnya dengan bibir vagina mencengkeram penis Ven dengan erat.
Ketika Ris menaikkan pantatnya, bibir vaginanya turut tetarik keluar
mencengkeram kemaluan Ven. Sungguh pemandangan yang sangat
mengairahkan. Makin lama gerakan Ris makin cepat dan tak lama Ris
tampak mencapai orgasmenya dan menekankan pantatnya kuat-kuat sehingga
penis Ven masuk seluruhnya. Setelah itu Ris menarik pantatnya dan
jongkok di tepi ranjang sambil mengulum kemaluan Ven. Sementara
vaginanya mengarah ke arahku. Melihat pemandangan demikian, aku
memasukkan penisku ke vagina Ris dari belakang, sementara mulutnya
sibuk mengulum kemaluan Ven keluar masuk.
Kira-kira sepuluh menit kemudian, Ris kembali mencapai orgasmenya
dan aku rasakan vaginanya menjepit penisku dengan erat. Tak lama aku
pun kembali mencapai ejakulasi. Setelah itu Ris mengelap sisa air
maniku yang tertinggal di mulut vaginanya dengan handuk kecil, Ris
kemudian berbaring di ranjang dan Ven kembali memasukkan penisnya ke
vagina Ris.
Setelah hampir satu jam, dan Ris telah mencapai dua kali orgasme
lagi, barulah Ven pun mencapai orgasmenya, namun kali ini Ven
mengeluarkan penisnya dari vagina Ris, sehingga spermanya muncrat ke
payudara dan perut Ris. Sambil tersenyum Ris membalurkan sperma tsb ke
seluruh dada dan perutnya, untuk menikmati kehangatannya. Setelah itu
Ris kemudian mengelapnya dengan handuk kecil. Sementara Ven tampak
kelelahan namun sangat menikmati. Ven kemudian mencium bibir Ris,
istriku dan memeluknya. Ris berkata bahwa ia sangat menikmati malam itu
dan tersenyum manis kepadaku. Kemudian mereka berdua tertidur di
ranjang dengan tubuh telanjang, sementara aku tertidur kelelahan di
atas sofa.
Namaku Asmiati, tinggi 160 sentimeter, berat 56 kilogram, lingkar
pinggang 65 sentimeter. Secara keseluruhan, sosokku kencang, garis
tubuhku tampak bila mengenakan pakaian yang ketat terutama pakaian
senam. Aku adalah Ibu dari dua anak berusia 44 tahun dan bekerja
sebagai seorang guru disebuah SLTA di kota S.
Kata orang tahi lalat di daguku seperti Berliana Febriyanti, dan
bentuk tubuhku mirip Minati Atmanegara yang tetap kencang di usia yang
semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki
payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan
dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat dengan olahraga
yang teratur.
Kira-kira 6 tahun yang lalu saat usiaku masih 38 tahun salah
seorang sehabatku menitipkan anaknya yang ingin kuliah di tempatku,
karena ia teman baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku
menyetujuinya. Nama pemuda itu Sandi, kulitnya kuning langsat dengan
tinggi 173 cm. Badannya kurus kekar karena Sandi seorang atlit karate
di tempatnya. Oh ya, Sandi ini pernah menjadi muridku saat aku masih
menjadi guru SD.
Sandi sangat sopan dan tahu diri. Dia banyak membantu pekerjaan
rumah dan sering menemani atau mengantar kedua anakku jika ingin
bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan
keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama. Aku
juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga
penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos
ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Sandi memperlihatkan
sikap yang wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan
keindahan garis tubuhku.
Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas
sekolah S-2 keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat
melepasnya, karena aku bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan sex-ku
yang masih menggebu-gebu. Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku
rutin melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali.
Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku jalankan, sehingga hasrat
tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan kepergiannya otomatis
aku harus menahan diri.
Awalnya biasa saja, tapi setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat
menyerangku. Itu membuat aku menjadi uring-uringan dan menjadi
malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah menunjukkan
angka 9. Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam di rumah
nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah
makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar
suara pintu dIbuka dari kamar Sandi.
Kudengar suara langkahnya mendekatiku.
"Bu Asmi..?" Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku
makin erat. Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba aku tercekat
ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku,
ternyata Sandi sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang
tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku
lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur
telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus
berpura-pura tertidur.
"Bu Asmi..?" Suara Sandi terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak atau tidak.
Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai keleher.
Lalu kurasakan Sandi mengelus bibirku, jantungku seperti melompat,
aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi
tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam
bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat
sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura
tertidur kuatur napas selembut mungkin.
Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang
geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya
terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian aku merasakan tangannya meraba
buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia cuma
mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu aku
merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada
sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama
merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku
memutuskan tetap diam sampai saatnya tiba.
Sekarang tangan Sandi sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari
depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan
memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti amalah
membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan
tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat
Sandi mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat
puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya,
aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah
mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku
disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan,
nikmat sekali.
Tangan kanan Sandi mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan
jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah
vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Sandi
menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya
menyusup masuk ke dalam CD-ku. Jantungku berdetak keras sekali,
kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Sandi mencoba
memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam,
wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri Sandiwaraku, aku sudah tak
tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.
"Sandi!! Ngapain kamu?"
Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Sandi menekan pundakku
dengan keras. Tiba-tiba Sandi mecium mulutku secepat kilat, aku
berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Sandi
makin keras menekan pundakku, malah sekarang pemuda itu menindih
tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar
berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke
dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak.
"Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan
saya Bu... " Sandi melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan
pandangan meminta.
"Kamu kan bisa denagan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua," Ujarku lembut.
"Tapi saya sudah tergila-gila dengan Bu Asmi.. Saat SD saya sering
mengintip BH yang Ibu gunakan... Saya akan memuaskan Ibu
sepuas-puasnya," jawab Sandi.
"Ah kamu... Ya sudah terserah kamu sajalah"
Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya.
Lalu Sandi melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan
lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya
semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku.
Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku,
kupandangi badanku di cermin. Benarkah pemuda seperti Sandi terangsang
melihat tubuhku ini? Perduli amat yang penting aku ingin merasakan
bagaimana sich bercinta dengan remaja yang masih panas.
Keluar dari kamar mandi, Sandi persis masuk kamar. Matanya
terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai
benangpun.
"Body Ibu bagus banget.. " dia memuji sembari mengecup putting
susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di
tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari
pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara
montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah
digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga
dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.
"Ibu hebat...," desisnya.
"Apanya yang hebat..?" Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Sandi yang panjang seleher.
"Badan Ibu enggak banyak berubah dibandingkan saya SD dulu" Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.
"Itu karena Ibu teratur olahraga" jawabku sembari meremas tonjolan
kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya.
Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki
mengangkang. DIbukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut
meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.
Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Sandi minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku.
"Masukin aja yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu San!" Cegahku sambil menciumnya.
Sandi tersenyum lebar. "Sudah enggak sabar ya ?" godanya.
"Kamu juga sudah enggak kuatkan sebenarnya San," Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot.
Sandi tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman
rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Sandi pintar
sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat
singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian
membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Sandi yang
besar.
Berbeda dengan suamiku, Sandi nampaknya lebih sabar. Dia tidak
segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur
tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu
diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku,
terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.
Sandi menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami
berimpitan dengan posisi aku membelakangi Sandi, lalu diremas-remasnya
buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan
sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku
dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang
vaginaku yang basah merekah.
"Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak 'bercinta' sama Ibu...," dia
berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda
birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun
lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Sandi, hingga terasa tangan
kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.
Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas
Sandi semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang
telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku,
sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu...,
terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah
belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya...!!!
Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya
menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan
Sandi memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.
"Oohh...," sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku
langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Sandi mulai memaju mundurkan
tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.
"Saann, penismu enaaak...!!!," kataku setengah menjerit.
Sandi tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya.
Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku
semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu
seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.
"Oohh..., toloongg.., gustii...!!!"
Sandi malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.
"Aahh, penismu..., oohh, aarrghh..., penismuu..., oohh...!!!"
Sandi terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan
batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh
dengan posisi menyamping, nampaknya Sandi sama sekali tidak kesulitan
menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali
terasa akan meledak.
"Ibu mau keluar! Ibu mau keluaaar!!" aku menjerit-jerit.
"Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget 'bercinta' sama Ibu!" Sandi menyodok-nyodok semakin kencang.
"Sodok terus, Saann!!!... Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!"
"Teruuss..., arrgghh..., sshh..., ohh..., sodok terus penismuuu...!"
"Oh, ah, uuugghhh... "
"Enaaak..., penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss..."
Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Sandi,
kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus
tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku
orgasme!
Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat
yang tidak terkatakan. Mungkin sudah ada lima tahun aku tak merasakan
kenikmatan seperti ini. Sandi mengecup-ngecup pipi serta daun
telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian
dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum
mencapai orgasme.
Kuturuti permintaan Sandi. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang
luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Sandi mengikuti
gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap
dalam vaginaku.
Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia
luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara
teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu
perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.
Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Sandi dengan diam. Kepalaku
tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai
terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Sandi
segera menunduk, dikecupnya pipiku.
"San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar," kataku terus terang.
"Emangnya Ibu suka kalau aku cepet keluar?" jawabnya lembut di telingaku.
Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Sandi
mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia
seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang
pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.
Sandi melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya
jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras
menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.
"Oorrgghh..., aahh..., ennaak..., penismu enak bangeett... Ssann!!"
Sandi tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat.
Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali,
birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Sandi pun kali ini
segera akan mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya dengan
menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali
kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Sandi. Pemuda itu mulai
mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.
Tiba-tiba Sandi menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari
kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan
setengah mengangkatnya. Sandi langsung menyodokkan kedua dengkulnya
hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Sandi
memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras
menghunjam mulut vaginaku yang menganga.
"Aarrgghhh...!!!" aku menjerit.
"Aku hampir keluar!" Sandi bergumam. Gerakannya langsung cepat dan
kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku
pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandi.
Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.
"Terus, Sayang..., teruuusss...!"desahku.
"Ooohhh, enak sekali..., aku keenakan..., enak 'bercinta' sama Ibu!" Erang Sandi
"Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan...!" Balasku.
"Aku sudah hampir keluar, Buu..., vagina Ibu enak bangeet... "
"Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss..., yaah, aku juga mau keluarr!"
"Ah, oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaaar...!"
"Yaahh teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann...,
aku mau keluar, aku mau keluar, vaginaku keenakan, aku keenakan
'bercinta' sama kamu..., yaahh..., teruss..., aarrgghh..., ssshhh...,
uughhh..., aarrrghh!!!"
Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa
berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan
nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Sandi menekan kuat-kuat,
menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.
"Oohhh...!!!" dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya
menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak
terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan
seperti itu.
Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih
terus bertautan. Sandi memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama
sIbuk mengatur nafas.
"Enak banget," bisik Sandi beberapa saat kemudian.
"Hmmm..." Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Sandi bergerak-gerak di dalam vaginaku.
"Vagina Ibu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu..."
"Apalagi penis kamu..., gede, keras, dalemmm..."
Sandi bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan
kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik
kegelian. Sandi menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi
enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah
dadaku.
Sandi lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku
dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Sandi karena
kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Sandi
mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,
"Aku bisa enggak puas-puas 'bercinta' sama Ibu... Ibu juga suka kan?"
Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Sandi sebagai jawaban.
Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di
sore hari malamnya Sandi kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam
itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku
mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar
lunglai, lemas tak bertenaga.
Hampir tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap pergi ke sekolah. Di
sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku
sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sehari
semalam dengan bekas muridku yang perkasa.
Sudah seminggu Sandi menjadi" suami"ku. Dan jujur saja aku sangat
menikmati kehidupan malamku selama seminggu ini. Sandi benar-benar
pemuda yang sangat perkasa, selama seminggu ini liang vaginaku selalu
disiramnya dengan sperma segar. Dan entah berapa kali aku menahan
jeritan karena kenikmatan luar biasa yang ia berikan.
Walaupun malam sudah puas menjilat, menghisap, dan mencium sepasang
payudaraku. Sandi selalu meremasnya lagi jika ingin berangkat kuliah
saat pagi hari, katanya sich buat menambah semangat. Aku tak mau
melarang karena aku juga menikmati semua perbuatannya itu, walau
akibatnya aku harus merapikann bajuku lagi.
Malam itu sekitar jam setengah 10-an. Setelah menidurkan anakku
yang paling bungsu, aku pergi kekamar mandi untuk berganti baju. Sandi
meminta aku mengenakan pakaian yang biasa aku pergunakan ke sekolah.
Setelah selesai berganti pakaian aku lantas keluar dan berdiri duduk di
depan meja rias. Lalu berdandan seperti yang biasa aku lakukan jika
ingin berangkat mengajar kesekolah.
Tak lama kudengar suara ketukan, hatiku langsung bersorak gembira
tak sabar menanti permainan apa lagi yang akan dilakukan Sandi padaku.
"Masuk.. Nggak dikunci," panggilku dengan suara halus.
Lalu Sandi masuk dengan menggunakan T-shirt ketat dan celana putih sependek paha.
"Malam ibu... Sudah siap..?" Godanya sambil medekatiku.
"Sudah sayang..." Jawabku sambil berdiri.
Tapi Sandi menahan pundakku lalu memintaku untuk duduk kembali
sembil menghadap kecermin meja rias. Lalu ia berbisik ketelingaku
dengan suara yang halus.
"Bu.. Ibu mau tahu nggak dari mana biasanya saya mengintip ibu?"
"Memangnya lewat mana..?" Tanyaku sambil membalikkan setengah badan.
Dengan lembut ia menyentuh daguku dan mengarahkan wajahku kemeja rias. Lalu sambil mengecup leherku Sandi berucap.
"Dari sini bu.." Bisiknya.
Dari cermin aku melihat disela-sela kerah baju yang kukenakan agak
terbuka sehingga samar-samar terlihat tali BHku yang berwarna hitam.
Pantas jika sedang mengajar di depan kelas atau mengobrol dengan
guru-guru pria disekolah, terkadang aku merasa pandangan mereka sedang
menelanjangi aku. Rupanya pemandangan ini yang mereka saksikan saat
itu.
Tapi toh mereka cuma bisa melihat, membayangkan dan ingin
menyentuhnya pikirku. Lalu tangan kanan Sandi masuk kecelah itu dan
mengelus pundakku. Sementara tangan kirinya pelan-pelan membuka kancing
bajuku satu persatu. Setelah terbuka semua Sandi lalu membuka bajuku
tanpa melepasnya. Lalu ia meraih kedua payudaraku yang masih tertutup
BH.
"Inilah yang membuat saya selalu mengingat ibu sampai sekarang,"
Bisiknya ditelingaku sambil meremas kedua susuku yang masih kencang
ini.
Lalu tangan Sandi menggapai daguku dan segera menempelkan bibir
hangatnya padaku dengan penuh kasih dan emosinya. Aku tidak tinggal
diam dan segera menyambut sapuan lidah Sandi dan menyedotnya dengan
keras air liur Sandi, kulilitkan lidahku menyambut lidah Sandi dengan
penuh getaran birahi. Kemudian tangannya yang keras mengangkat tubuhku
dan membaringkannya ditengah ranjang.
Ia lalu memandang tubuh depanku yang terbuka, dari cermin aku bisa
melihat BH hitam yang transparan dengan "push up bra style". Sehingga
memberikan kesan payudaraku hampir tumpah meluap keluar lebih
sepertiganya. Untuk lebih membuat Sandi lebih panas, aku lalu
mengelus-elus payudaraku yang sebelah kiri yang masih dibalut bra,
sementara tangan kiriku membelai pussy yang menyembul mendesak CDku,
karena saat itu aku mengenakan celana "mini high cut style".
Sandi tampak terpesona melihat tingkahku, lalu ia menghampiriku dan
menyambar bibirku yang lembut dan hangat dan langsung melumatnya.
Sementara tangan kanan Sandi mendarat disembulan payudara sebelah
kananku yang segar, dielusnya lembut, diselusupkan tangannya dalam bra
yang hanya 2/3 menutupi payudaraku dan dikeluarkannya buah dadaku.
Ditekan dan dicarinya puting susuku, lalu Sandi memilinnya secara halus
dan menariknya perlahan. Perlakuannya itu membuatku melepas ciuman
sandi dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalaku kekiri dan
kekanan.
Selepas tautan dengan bibir hangatku, Sandi lalu menyapu dagu dan leherku, sehingga aku meracau menerima dera kenikmatan itu.
"Saan... Saann... Kenapa kamu yang memberikan kenikmatan ini.."
Sandi lalu menghentikan kegiatan mulutnya. Tangannya segera membuka
kaitan bra yang ada di depan, dengan sekali pijitan jari telunjuk dan
ibu jari sebelah kanan Sandi, Segera dua buah gunung kembarku yang
masih kencang dan terawat menyembul keluar menikmati kebebasan alam
yang indah. Lalu Sandi menempelkan bibir hangatnya pada buah dadaku
sebelah kanan, disapu dan dijilatnya sembulan daging segar itu. Secepat
itu pula merambatlah lidahnya pada puting coklat muda keras, segar
menentang ke atas. Sandi mengulum putingku dengan buas, sesekali
digigit halus dan ditariknya dengan gigi.
Aku hanya bisa mengerang dan mengeluh, sambil mengangkat badanku
seraya melepaskan baju dan rok kerjaku beserta bra warna hitam yang
telah dibuka Sandi dan kulemparkan kekursi rias. Dengan giat penuh
nafsu Sandi menyedot buah dadaku yang sebelah kiri, tangan kanannya
meraba dan menjalar kebawah sampai dia menyentuh CDku dan berhenti
digundukan nikmat yang penuh menentang segar ke atas. Lalu Sandi
merabanya ke arah vertikal, dari atas kebawah. Melihat CDku yang sudah
basah lembab, ia langsung menurukannya mendororng dengan kaki kiri dan
langsung membuangnya sampai jatuh ke karpet.
Adapun tangan kanan itu segera mengelus dan memberikan sentuhan
rangsangan pada memekku, yang dibagian atasnya ditumbuhi bulu halus
terawat adapun dibagian belahan vagina dan dibagian bawahnya bersih dan
mulus tiada berambut. Rangsangan Sandi semakin tajam dan hebat sehingga
aku meracau.
"Saaan.. Sentuh ibu sayang, .. Saann buat.. Ibu terbaang.. Pleaase."
Sandi segera membuka gundukan tebal vagina milikku lalu mulutnya
segera menjulur kebawah dan lidahnya menjulur masuk untuk menyentuh
lebih dalam lagi mencari kloritasku yang semakin membesar dan mengeras.
Dia menekan dengan penuh nafsu dan lidahnya bergerak liar ke atas dan
kebawah. Aku menggelinjang dan teriak tak tahan menahan orgasme yang
akan semakin mendesak mencuat bagaikan merapi yang ingin memuntahkan
isi buminya. Dengan terengah-engah kudorong pantatku naik, seraya
tanganku memegang kepala Sandi dan menekannya kebawah sambil mengerang.
"Ssaann.. Aarghh.."
Aku tak kuasa menahannya lagi hingga menjerit saat menerima ledakan
orgasme yang pertama, magma pun meluap menyemprot ke atas hidung Sandi
yang mancung.
"Saan.. Ibu keluaa.. aar.. Sann.." Memekku berdenyut kencang dan mengejanglah tubuhku sambil tetap meracau.
"Saan.. Kamu jago sekali memainkan lidahmu dalam memekku sayang.. Cium ibu sayang."
Sandi segera bangkit mendekap erat diatas dadaku yang dalam keadaan
oleng menyambut getaran orgasme. Ia lalu mencium mulutku dengan kuatnya
dan aku menyambutnya dengan tautan garang, kuserap lidah Sandi dalam
rongga mulutku yang indah. Tubuhku tergolek tak berdaya sesaat,
Sandipun mencumbuku dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh
tubuhku yang halus, seraya memberikan kecupan hangat didahi, pipi dan
mataku yang terpejam dengan penuh cinta. Dibiarkannya aku menikmati
sisa-sisa kenikmatan orgasme yang hebat. Juga memberi kesempatan
menurunnya nafsu yang kurasakan.
Setelah merasa aku cukup beristirahat Sandi mulai menyentuh dan
membelaiku lagi. Aku segera bangkit dan medorong belahan badan Sandi
yang berada diatasku. Kudekatkan kepalaku kewajahnya lalu kucium dan
kujilati pipinya, kemudian menjalar kekupingnya. Kumasukkan lidahku ke
dalam lubang telinga Sandi, sehingga ia meronta menahan gairahnya.
Jilatanku makin turun kebawah sampai keputing susu kiri Sandi yang
berambut, Kubelai dada Sandi yang bidang berotot sedang tangan kananku
memainkan puting yang sebelah kiri. Mengelinjang Sandi mendapat
sentuhan yang menyengat dititik rawannya yang merambat gairahnya itu,
sandipun mengerang dan mendesah.
Kegiatanku semakin memanas dengan menurunkan sapuan lidah sambil
tanganku merambat keperut. Lalu kumainkan lubang pusar Sandi ditekan
kebawah dfan kesamping terus kulepaskan dan kubelai perut bawah Sandi
sampai akhirnya kekemaluan Sandi yang sudah membesar dan mengeras.
Kuelus lembut dengan jemari lentikku batang kemaluan Sandi yang
menentang ke atas, berwarna kemerahan kontras dengan kulit sandi yang
putih kepalanya pun telah berbening air birahi.
Melihat keadaan yang sudah menggairahkan tersebut aku menjadi tak
sabar dan segera kutempelkan bibir hangatku kekepala kontol Sandi
dengan penuh gelor nafsu, kusapu kepala kontol dengan cermat, kuhisap
lubang air seninya sehingga membuat Sandi memutar kepalanya kekiri dan
kekanan, mendongkak-dongkakkan kepalanya menahan keikmatan yang sangat
tiada tara, adapun tangannya menjambak kepalaku.
"Buuu.. Dera nikmat darimu tak tertahankan.. Kuingin memilikimu seutuhnya," Sandi mengerang.
Aku tidak menjawabnya, hanya lirikan mataku sambil mengedipkannya
satu ke arah Sandi yang sedang kelejotan. Sukmanya sedang terbang
melayang kealam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi. Adapun
tanganku memijit dan mengocoknya dengan ritme yang pelan dan semakin
cepat, sementara lidahku menjilati seluruh permukaan kepala kontol
tersebut. Termasuk dibagian urat yang sensitif bagian atas sambil
kupijat-pijat dengan penuh nafsu birahi.
Sadar akan keadaan Sandi yang semakin mendaki puncak kenikmatan dan
akupun sendiri telah terangsang. Denyutan memekku telah mempengaruhi
deburan darah tubuhku, kulepaskan kumulan kontol Sandi dan segera
kuposisikan tubuhku diatas tubuh Sandi menghadap kekakinya. Dan
kumasukkan kontol Sandi yang keras dan menengang ke dalam relung
nikmatku. Segera kuputar memompanya naik turun sambil menekan dan
memijat dengan otot vagina sekuat tenaga. Ritme gerakanpun kutambah
sampai kecepatan maksimal.
Sandi berteriak, sementara aku pun terfokus menikmati dera
kenikmatan gesekan kontol sandi yang menggesek G-spotku berulang kali
sehingga menimbulkan dera kenikmatan yang indah sekali. Tangan Sandipun
tak tinggal diam diremasnya pantatku yang bulat montok indah, dan
dielus-elusnya anusku, sambil menikmati dera goyanganku pada kontolnya.
Dan akhirnya kami berdua berteriak.
"Buu Dennook.. Aku tak kuat lagi.. Berikan kenikmatan lebih lagi bu.. Denyutan diujung kontolku sudah tak tertahankan"
"Ibu pandai... Ibu liaarr... Ibu membuatku melayang.. Aku mau keluarr" .
Lalu Sandi memintaku untuk memutar badan manghadap pada dirinya dan
dibalikkannya tubuhku sehingga. Sekarang aku berada dibawah tubuhnya
bersandarkan bantal tinggi, lalu Sandi menaikkan kedua kakiku kebahunya
kemudian ia bersimpuh di depan memekku. Sambil mengayun dan memompa
kontolnya dengan yang cepat dan kuat. Aku bisa melihat bagaimana wajah
Sandi yang tak tahan lagi akan denyutan diujung kontol yang semakin
mendesak seakan mau meledak.
"Buu... Pleaass.. See.. Aku akaan meleedaaakkh!"
"Tungguu Saan.. Orgasmeku juga mauu.. Datang ssayaang.. Kita sama-sama yaa.."
Akhirnya... Cret.. Cret.. Cret tak tertahankan lagi bendungan Sandi
jebol memuntahkan spermanya di vaginaku. Secara bersamaan akupun
mendengus dan meneriakkan erangan kenikmatan. Segera kusambar bibir
sandi, kukulum dengan hangat dan kusodorkan lidahku ke dalam rongga
mulut Sandi. Kudekap badan Sandi yang sama mengejang, basah badan Sandi
dengan peluh menyatu dengan peluhku. Lalu ia terkulai didadaku sambil
menikmati denyut vaginaku yang kencang menyambut orgasme yang nikmat
yang selama ini kurindukan.
Lalu Sandi membelai rambutku dengan penuh kasih sayang kemudian mengecup keningku.
"Buu.. Thank you, i love you so much.. Terus berikan kenikmatan seperti ini untukku ya.." Bisiknya lembut.
Aku hanya mengangguk perlahan, setelah memberikan ciuman selamat
tidur aku memeluknya dan langsung terlelap. Karena besok aku harus
masuk kerja dan masih banyak lagi petualangan penuh kenikmatan yang
akan kami lalui.
 | Pak RT | Apr 7, '07 7:50 AM for everyone |
Pak Vito adalah ketua RT di daerah tempat aku tinggal. Ia sering datang
ke rumahku untuk keperluan menagih iuran daerah dan biaya air ledeng.
Dia adalah seorang pria berusia sekitar 50 tahunan dan mempunyai dua
istri. Benar kata orang bahwa dia ini seorang bandot tua, buktinya
ketika di rumahku kalau aku lewat di depannya, seringkali matanya
jelalatan menatap padaku seolah-olah matanya tembus pandang ke balik
pakaianku. Bagiku sih tidak apa-apa, aku malah senang kalau tubuhku
dikagumi laki-laki, terkadang aku memakai baju rumah yang seksi kalau
lewat di depannya. Aku yakin di dalam pikirannya pasti penuh hal-hal
yang jorok tentangku.
Pada suatu hari aku sedang di rumah sendirian. Aku sedang melakukan
fitness untuk menjaga bentuk dan stamina tubuhku di ruang belakang
rumahku yang tersedia beberapa peralatan fitness. Aku memakai pakaian
yang enak dipakai dan menyerap keringat berupa sebuah kaus hitam tanpa
lengan dengan belahan dada rendah sehingga buah dadaku yang montok itu
agak tersembul keluar terutama kalau sedang menunduk apalagi aku tidak
memakai BH, juga sebuah celana pendek ketat merk 'Nike' yang mencetak
pantatku yang padat berisi. Waktu aku sedang melatih pahaku dengan
sepeda fitness, tiba-tiba terdengar bel berbunyi, segera saja kuambil
handuk kecil dan mengelap keringatku sambil berjalan ke arah pintu.
Kulihat dari jendela, ternyata Pak Vito yang datang, pasti dia mau
menagih biaya ledeng, yang dititipkan ayah padaku tadi pagi.
Kubukakan pagar dan kupersilakan dia masuk.
"Silakan Pak duduk dulu ya, sambil nunggu saya ambil uangnya"
senyumku dengan ramah sambil mempersilakannya duduk di ruang tengah. "Kok sepi sekali Dik, kemana yang lain?"
"Papa hari ini pulangnya malam, tapi uangnya udah dititip ke saya kok, Mama juga lagi arisan sama teman-temannya".
Seperti biasa matanya selalu saja menatapi tubuhku, terutama bagian
dadaku yang agak terlihat itu. Aku juga sadar kalau dadaku sempat
diintip olehnya waktu menunduk untuk menaruh segelas teh untuknya.
"Minum Pak", tawarku lalu aku duduk di depannya dengan menyilangkan
kaki kananku sehingga pahaku yang jenjang dan putih itu makin terlihat.
Nuansa mesum mulai terasa di ruang tamuku yang nyaman itu. Dia
menanyaiku sekitar masalah anak muda, seperti kuliah, hoby, keluarga,
dan lain-lain, tapi matanya terus menelanjangiku. "Dik Citra lagi olah raga yah, soalnya badannya keringatan gitu terus mukanya merah lagi" katanya.
"Iya nih Pak, biasa kan cewek kan harus jaga badan lah, cuma
sekarang jadi pegel banget nih, pengen dipijat rasanya, Bapak bisa
bantu pijitin nggak?" godaku sambil mengurut-ngurut pahaku. Tanpa diminta lagi dia segera bangkit berdiri dan pindah ke
sebelahku, waktu berdiri kuperhatikan ia melihat putingku yang menonjol
dari balik kausku, juga kulihat penisnya ngaceng berat membuatku tidak
sabar mengenggam benda itu.
"Mari Dik, kesinikan kakinya biar Bapak pijat"
Aku lalu mengubah posisi dudukku menjadi menyamping dan menjulurkan
kakiku ke arahnya. Dia mulai mengurut paha hingga betisku. Uuuhh..
pijatannya benar-benar enak, telapak tangannya yang kasar itu membelai
pahaku yang putih mulus hingga membangkitkan birahiku. Akupun
mendesah-desah sambil menggigit bibir bawahku. "Pijatan Bapak enak ya Dik?" tanyanya.
"Iya Pak, terus dong.. enak nih.. emmhh!" aku terus mendesah
membangkitkan nafsu Pak Vito, desahanku kadang kusertai dengan geliat
tubuh. Dia semakin berani mengelus paha dalamku, bahkan menyentuh pangkal pahaku dan meremasnya.
"Enngghh.. Pak!" desahku lebih kuat lagi ketika kurasakan jari-jarinya mengelusi bagian itu.
Tubuhku makin menggelinjang sehingga nafsu Pak Vito pun semakin
naik dan tidak terbendung lagi. Celana sportku diperosotkannya beserta
celana dalamku. "Aaww.. !" aku berlagak kaget sambil menutupi kemaluanku dengan telapak tanganku.
Melihat reaksiku yang malu-malu kucing ini dia makin gemas saja,
ditariknya celanaku yang sudah tertarik hingga lutut itu lalu
dilemparnya ke belakang, tanganku yang menutupi kemaluan juga dibukanya
sehingga kemaluanku yang berambut lebat itu tampak olehnya, klitorisku
yang merah merekah dan sudah becek siap dimasuki. Pak Vito tertegun
beberapa saat memandangiku yang sudah bugil bagian bawahnya itu. "Kamu memang sempurna Dik Citra, dari dulu Bapak sering
membayangkan ngentotin kamu, akhirnya hari ini kesampaian juga",
rayunya
Dia mulai melepas kemejanya sehingga aku dapat melihat perutnya
yang berlemak dan dadanya yang berbulu itu. Lalu dia membuka sabuk dan
celananya sehingga benda dibaliknya kini dapat mengacung dengan gagah
dan tegak. Aku menatap takjub pada organ tubuh itu, begitu besar dan
berurat aku sudah tidak sabar lagi menggenggam dan mengulumnya. Pak
Vito begitu membuka pahaku lalu membenamkan kepalanya di situ sehingga
selangkanganku tepat menghadap ke mukanya. "Hhmm.. wangi, pasti Adik rajin merawat diri yah" godanya waktu
menghirup kemaluanku yang kurawat dengan apik dengan sabun pembersih
wanita. Sesaat kemudian kurasakan benda yang lunak dan basah menggelitik
vaginaku, oohh.. lidahnya menjilati klitorisku, terkadang menyeruak ke
dalam menjilati dinding kemaluanku. Lidah tebal dan kumisnya itu terasa
menggelitik bagiku, aku benar-benar merasa geli di sana sehingga
mendesah tak tertahan sambil meremasi rambutnya. Kedua tangannya
menyusup ke bawah bajuku dan mulai meremas buah dadaku, jari-jarinya
yang besar bermain dengan liar disana, memencet putingku dan
memelintirnya hingga benda itu terasa makin mengeras.
"Pak.. oohh.. saya juga mau.. Pak!" desahku tak tahan lagi ingin mengulum penis itu.
"Kalau begitu Bapak di bawah saja ya Dik" katanya sambil mengatur posisi kami sedemikian rupa menjadi gaya 69.
Aku naik ke wajahnya dan membungkukkan tubuhku, kuraih benda
kesukaanku itu, dalam genggamanku kukocok perlahan sambil menjilatinya.
Kugerakkan lidahku menelusuri pelosok batang itu, buah pelirnya kuemut
sejenak, lalu jilatanku naik lagi ke ujungnya dimana aku mulai membuka
mulut siap menelannya. Oohh.. batang itu begitu gemuk dan berdiameter
lebar persis seperti tubuh pemiliknya, sehingga akupun harus membuka
mulutku selebar-lebarnya agar bisa mamasukkannya.
Aku mulai mengisapnya dan memijati buah pelirnya dengan tanganku.
Pak Vito mendesah-desah enak menikmati permainanku, sementara aku juga
merasa geli di bawah sana, kurasakan ada gerakan memutar-mutar di dalam
liang vaginaku oleh jarinya, jari-jari lain dari tangan yang sama
mengelus-elus klitoris dan bibir vaginaku, bukan itu saja, lidahnya
juga turut menjilati baik anus maupun vaginaku. Sungguh suatu sensasi
yang hebat sekali sampai pinggulku turut bergoyang menikmatinya, juga
semakin bersemangat mengulum penisnya. Selama 10 menitan kami
menikmatinya sampai ada sedikit terganggu oleh berbunyinya HP Pak Vito.
Aku lepaskan penisnya dari mulutku dan menatap padanya.
Pak Vito menyuruhku mengambil HP-nya di atas meja ruang tamu, lalu
dia berkata, "Ayo Dik, terusin dong karaokenya, biar Bapak ngomong dulu
di telepon". Aku pun tanpa ragu-ragu menelan kembali penisnya. Dia bicara di
HP sambil penisnya dikulum olehku, tidak tau deh bicara dengan siapa,
emang gua pikirin, yang pasti aku harus berusaha tidak mengeluarkan
suara-suara aneh. Tangan satunya yang tidak memegang HP terus bekerja
di selangkanganku, kadang mencucuk-cucukkannya ke vagina dan anusku,
kadang meremas bongkahan pantatku. Tiba-tiba dia menggeram sambil
menepuk-nepuk pantatku, sepertinya menyuruhku berhenti, tapi karena
sudah tanggung aku malahan makin hebat mengocok dan mengisap penis itu
sampai dia susah payah menahan geraman nikmatnya karena masih harus
terus melayani pembicaraan. Akhirnya muncratlah cairan putih itu di
mulutku yang langsung saya minum seperti kehausan, cairan yang menempel
di penisnya juga saya jilati sampai tak bersisa.
"Nggak kok.. tidak apa-apa.. cuma tenggorokkan saya ada masalah dikit" katanya di HP.
Tak lama kemudian dia pun menutup HP nya, lalu bangkit duduk dan
menaikkanku ke pangkuannya, tangan kirinya dipakai menopang tubuhku. "Wah.. Dik Citra ini bandel juga ya, tadi kan Bapak udah suruh
stop dulu, ee.. malah dibikin keluar lagi, untung nggak curiga tuh
orang" katanya sambil mencubit putingku. "Hehehe.. sori deh Pak, kan tadi tanggung makannya saya terusin aja, tapi Bapak seneng kan" kataku dengan tersenyum nakal.
"Hmm.. kalo gitu awas ya sekarang Bapak balas bikin kamu keluar nih" seringainya.
Lalu dengan sigap tangannya bergerak menyelinap diantara kedua
pangkal pahaku. Jari tengah dan telunjuknya menyeruak dan
mengorek-ngorek vaginaku, aku meringis ketika merasakan jari-jari itu
bergerak semakin cepat mempermainkan nafsuku.
Pak Vito menurunkan kaos tanpa lenganku dari bahu dan meloloskannya
lewat lengan kananku, sehingga kini payudara kananku yang putih montok
itu tersembul keluar. Dengan penuh nafsu langsung dia lumat benda itu
dengan mulutnya. Aku menjerit kecil waktu dia menggigit putingku dan
juga mengisapnya kuat-kuat, bulatan mungil itu serasa makin menegang
saja. Dia membuka mulutnya lebar-lebar berusaha memasukkan seluruh
payudaraku ke mulutnya, di dalam mulutnya payudaraku disedot, dikulum,
dan dijilat, rasanya seperti mau dimakan saja milikku itu. Sementara
selangkanganku makin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu
menusuk makin cepat dan dalam saja. Hingga suatu saat birahiku terasa
sudah di puncak, mengucurlah cairan cintaku dengan deras. Aku
mengatupkan pahaku menahan rasa geli di bawahku sehingga tangannya
terhimpit diantara kedua paha mulusku.
Setelah dia cabut tangannya dari kemaluanku, nampak jari-jarinya
sudah belepotan oleh cairan bening yang kukeluarkan. Dia jilati
cairanku dijarinya itu, aku juga ikutan menjilati jarinya merasakan
cairan cintaku sendiri. Kemudian dia cucukkan lagi tangannya ke
kemaluanku, kali ini dia mengelus-ngelus daerah itu seperti sedang
mengelapnya. Telapak tangannya yang penuh sisa-sisa cairan itu
dibalurinya pada payudaraku. "Sayang kalo dibuang, kan mubazir" ucapnya.
Kembali lidahnya menjilati payudaraku yang sudah basah itu,
sedangkan aku menjilati cairan pada tangannya yang disodorkan padaku.
Tanganku yang satu meraba-raba ke bawah dan meraih penisnya, terasa
olehku batang itu kini sudah mengeras lagi, siap memulai aksi
berikutnya.
"Enggh.. masukin aja Pak, udah kepingin nih".
Dia membalik tubuhku, tepat berhadapan dengannya, tangan kananya
memegangi penisnya untuk diarahkan ke vaginaku. Aku membukakan kedua
bibir vaginaku menyambut masuknya benda itu. Setelah kurasakan pas aku
mulai menurunkan tubuhku, secara perlahan tapi pasti penis itu mulai
terbenam dalam kemaluanku. Goyanganku yang liar membuat Pak Vito
mendesah-desah keenakan, untung dia tidak ada penyakit jantung, kalau
iya pasti sudah kumat. Kaosku yang masih menyangkut di bahu sebelah
kiri diturunkannya sehingga kaos itu menggantung di perutku dan
payudara kiriku tersingkap. Nampak sekali bedanya antara yang kiri yang
masih bersih dengan bagian kanan yang daritadi menjadi bulan-bulanannya
sehingga sudah basah dan memerah bekas cupangan.
Kedua tangannya meremas-remas kedua payudaraku, ketika melumatnya
terkadang kumisnya yang kasar itu menggesek putingku menimbulkan
sensasi geli yang nikmat. Lidahnya bergerak naik ke leherku dan
mencupanginya sementara tangannya tetap memainkan payudaraku. Birahiku
sudah benar-benar tinggi, nafasku juga sudah makin tak teratur, dia
begitu lihai dalam bercinta, kurasa bukan pertama kalinya dia
berselingkuh seperti ini. Aku merasa tidak dapat bertahan lebih lama
lagi, frekuensi goyanganku kutambah, lalu aku mencium bibirnya. Tubuh
kami terus berpacu sambil bermain lidah dengan liarnya sampai ludah
kami menetes-netes di sekitar mulut, eranganku teredam oleh ciumannya.
Mengetahui aku sudah mau keluar, dia menekan-nekan bahuku ke bawah
sehingga penisnya menghujam makin dalam dan vaginaku makin terasa
sesak. Tubuhku bergetar hebat dan jeritanku tak tertahankan lagi
terdengar dari mulutku, perasaan itu berlangsung selama beberapa saat
sampai akhirnya aku terkulai lemas dalam pelukannya.
Dia menurunkanku dari pangkuannya, penisnya terlihat berkilauan
karena basah oleh cairan cinta. Dibaringkannya tubuhku yang sudah lemas
itu di sofa, lalu dia sodorkan gelas yang berisi teh itu padaku.
Setelah minum beberapa teguk, aku merasa sedikit lebih segar, paling
tidak pada tenggorokanku karena sudah kering waktu mendesah dan
menjerit. Kaosku yang masih menggantung di perut dia lepaskan, sehingga
kini aku bugil total. Sebelum tenagaku benar-benar pulih, Pak Vito
sudah menindih tubuhku, aku hanya bisa pasrah saja ditindih tubuh
gemuknya. Dengan lembut dia mengecup keningku, dari sana kecupannya
turun ke pipi, hingga berhenti di bibir, mulut kami kembali saling
berpagutan. Saat berciuman itulah, Pak Vito menempelkan penisnya pada
vaginaku, lalu mendorongnya perlahan, dan aahh.. mataku yang terpejam
menikmati ciuman tiba-tiba terbelakak waktu dia menghentakkan
pinggulnya sehingga penis itu menusuk lebih dalam.
Kenikmatan ini pun berlanjut, aku sangat menikmati gesekan-gesekan
pada dinding vaginaku. Buah dadaku saling bergesekan dengan dadanya
yang sedikit berbulu, kedua paha rampingku kulingkarkan pada
pinggangnya. Aku mendesah tak karuan sambil mengigiti jariku sendiri.
Sementara pinggulnya dihentak-hentakkan diatasku, mulutnya tak
henti-hentinya melumat atau menjilati bibirku, wajahku jadi basah bukan
saja oleh keringat, tapi juga oleh liurnya. Telinga dan leherku pun tak
luput dari jilatannya, lalu dia angkat lengan kananku ke atas dan dia
selipkan kepalanya di situ. Aahh.. ternyata dia sapukan bibir dan
lidahnya di ketiakku yang halus tak berbulu itu, kumis kasar itu
menggelitikku sehingga desahanku bercampur dengan ketawa geli.
"Uuuhh.. Pak.. aakkhh.. !" aku kembali mencapai orgasme.
Vaginaku terasa semakin banjir, namun tak ada tanda-tanda dia akan
segera keluar, dia terlihat sangat menikmati mimik wajahku yang sedang
orgasme. Suara kecipak cairan terdengar jelas setiap kali dia
menghujamkan penisnya, cairanku sudah meleleh kemana-mana sampai
membasahi sofa, untung sofanya dari bahan kulit, jadi mudah untuk
membersihkan dan menghilangkan bekasnya. Tanpa melepas penisnya, Pak
Vito bangkit berlutut di antara kedua pahaku dan menaikkan kedua
betisku ke pundaknya. Tanpa memberiku istirahat dia meneruskan mengocok
kemaluanku, aku sudah tidak kuat lagi mengerang karena leherku terasa
pegal, aku cuma bisa mengap-mengap seperti ikan di luar air.
"Bapak udah mau.. Dik.. Citra.. !" desahnya dengan mempercepat kocokkannya.
"Di luar.. Pak.. aku ahh.. uuhh.. lagi subur" aku berusaha ngomong walau suaraku sudah putus-putus.
Tak lama kemudian dia cabut penisnya dan menurunkan kakiku. Dia
naik ke wajahku, lalu dia tempelkan penisnya yang masih tegak dan basah
di bibirku. Akupun memulai tugasku, kukulum dan kukocok dengan gencar
sampai dia mengerang keras dan menjambak rambutku. Maninya menyemprot
deras membasahi wajahku, aku membuka mulutku menerima semprotannya.
Setelah semprotannya mereda pun aku masih mengocok dan mengisap
penisnya seolah tidak membiarkan setetespun tersisa. Batang itu
kujilati hingga bersih, benda itu mulai menyusut pelan-pelan di
mulutku. Kami berpelukan dengan tubuh lemas merenungi apa yang baru
saja terjadi.
Sofa tempat aku berbaring tadi basah oleh keringat dan cairan
cintaku yang menetes disana. Masih dalam keadaan bugil, aku berjalan
sempoyongan ke dapur mengambil kain lap dan segelas air putih. Waktu
aku kembali ke ruang tamu, Pak Vito sedang mengancingkan lagi bajunya,
lalu meneguk air yang tersisa di gelasnya. "Wah Dik Citra ini benar-benar hebat ya, istri-istri Bapak
sekarang udah nggak sekuat Adik lagi padahal mereka sering melayani
Bapak berdua sekaligus" pujinya yang hanya kutanggapi dengan senyum
manis.
Setelah berpakaian lagi, aku mengantarnya lagi ke pintu depan.
Sebelum keluar dari pagar dia melihat kiri kanan dulu, setelah yakin
tidak ada siapa-siapa dia menepuk pantatku dan berpamitan. "Lain kali kalo ada kesempatan kita main lagi yah Dik"
"Dasar bandot, belum cukup punya istri dua, masih ngembat anak orang" kataku dalam hati.
Akhirnya aku pun mandi membersihkan tubuhku dari sperma, keringat,
dan liur. Siraman air menyegarkan kembali tubuhku setelah seharian
penuh berolahraga dan berolahsyahwat. Beberapa menit sesudah aku
selesai mandi, ibuku pun pulang. Beliau bilang wangi ruang tamunya enak
sehingga kepenatannya agak berkurang, aku senyum-senyum saja karena
ruang itu terutama sekitar 'medan laga' kami tadi telah kusemprot
pengharum ruangan untuk menutupi aroma bekas persenggamaan tadi.
Setelah lulus SMA, saya ingin merantau kuliah di Jawa. Oleh karena itu
Surabaya yang menjadi tujuan, karena saya masih punya keluarga dari ibu
di sana. Paling tidak mbah saya dari ibu masih lengkap dan tante-tante
(bulik) dari ibu juga banyak di sana.
Mungkin saya cucu kesayangan, sehingga kedatangan saya disambut
gembira oleh kedua mbah dan tante-tante. Rumahnya tidak terlalu besar,
tetapi memiliki halaman lumayan. Kalau tidak salah yang ukurannya
sekitar 500 m2. Selama mencari perguruan tinggi yang cocok, saya
menginap di rumah mbah. Kelak jika sudah diterima di Perguruan Tinggi,
saya berencana kost.
Saya tidur sekamar dengan mbah. Berhubung kamarnya hanya cukup
dimuat oleh sebuah tempat tidur ukuran besar, saya diajak oleh tante
saya tidur di kolong tempat tidur mbah. Rupanya dia memang biasa tidur
di situ dengan gelaran kasur tipis. Bagi saya malah enak tidur di
kolong begitu, selain rada sensansi karena gelap, juga leluasa karena
ternyata tempatnya cukup luas.
Satu, dua, tiga malam saya tidur biasa-biasa saja. Meskipun di
sebelah saya tidur tante saya yang belum kawin dan beda usia kami
sekitar 7 tahun. Dia adalah adik ibu saya yang terkecil. Dia memang
anak bungsu. Saya tidak berminat sama tente saya ini, karena selain
segan tentunya dia bukan tipe saya. Orangnya agak hitam, susunya tidak
terlalu besar. Meski dia sudah bekerja, tetapi cara berpakaiannya
sederhana dan jauh dari sebutan sexy.
Jadinya saya walau tidur berdua dan bergelap-gelapan, tidak ada
perasaan apa-apa. Sampai satu malam saya terbangun karena rasanya
gerah. Pelan-pelan saya buka mata saya untuk mengenali situasi.
Ternyata saya dijadikan guling oleh tante saya. Meski gerah, berat,
dikeloni oleh wanita dewasa begini, tentunya pelan-pelan ya saya tidak
dapat netral lagi.
Sedapat mungkin saya menetralkan emosi. Namun, semampu-mampunya
mengontrol emosi, ada juga yang tidak mau dikontrol. Tapi, saya tetap
bersikap diam. Untungnya adik kecil ini tidak tertindih kaki tante
saya, sehingga saya masih dapat berdiam. Waktu itu saya berpikir
berkali-kali, menimbang berulang-ulang. Apakah ini kesengajaan atau
tidak sengaja. Jika salah mengantisipasi, saya bisa berabe. Oleh karena
itu lebih baik dianggap kurang mampu menanggapi peluang dari pada
dianggap kurang ajar (gengsi kali ya).
Malam itu saya akhirnya tertidur sambil menahan beban, dan seingat
saya paginya dia tidak lagi merangkul saya. Kami tidak berubah, dan dia
bersikap seperti sebelumnya, meskipun pada mulanya saya rada rikuh juga
menghadapi tante saya ini. Malam kedua saya agak lama tertidur, tante
di sebelah nampaknya sudah lebih dulu lelap. Kini dia ulangi lagi
memeluk saya. Celakanya adik kecil saya tertindih pahanya. Saraf
motoriknya langsung bekerja untuk memuai, saya tidak kuasa mencegahnya.
Kali ini pun saya tidak berani bereaksi. Saya nikmati saja seolah-olah
saya keponakan tersayang tidurnya dikeloni. Ya apa boleh buat, sama
sekali saya tidak berani membayangkan mencumbui tante saya ini, jadi ya
saya pasrah jadi orang bego.
Setelah kejadian dua malam itu, saya jadi merindukan segera tidur
lagi. Malam ketiga kami masuk ke bawah kolong bersama-sama setelah
keadaan kamar mbah gelap. Dia senyum yang saya tidak tahu artinya, dan
terpaksa saya balas juga senyumnya sekedar menghormati. Seperti biasa,
saya memang lebih sering tidur telentang, dan biasanya sampai pagi
tetap begitu. Tante langsung memeluk saya, padahal dia belum tidur.
Komputer di kepala langsung menganalisa, ooo.., ternyata selama ini ada
unsur kesengajaan. Tapi kesengajaan dalam rangka apa, susah pula
ditebak.
Kalau dalam keadaan sadar begini saya tetap diam, saya khawatir
dianggap tidak normal, atau paling tidak demi penghormatan saya harus
merespon. Jadilah saya membalas ikut merangkulnya. Ada celakanya,
karena tangan saya sebelah kiri tertindih badannya, dan posisinya
kira-kira menyentuh bagian selangkangan tante saya. Wah posisi susah
ini, mau digeser jalannya buntu, tidak digeser, nyaris menyentuh
vaginanya.
Kesemutan deh tangan ini akhirnya, karena saya tidak berani
menggerakkan tangan itu. Kami saling berhadapan, dan ternyata mulut
saya tidur lebih rendah, sehingga kening saya tepat di depan mulutnya.
Saya merangkul tanpa mengeluarkan kata-kata, dan tanpa gerakan apa pun.
Eh lha kok dia nyium kening saya, dan makin mengeratkan rangkulan. Saya
jadi terjebak harus mencium lehernya. Untung tadi sebelum tidur saya
sempat berbalur baby cologne, jadi bau badan saya mungkin seperti bayi.
Saya pun mengendus bau bedak yang segar dari tubuh tante.
Ciuman tante kok kayaknya bukan ciuman seperti dari ibu ke anaknya,
tapi ada rasa lain. Sebabnya dia bertubi-tubi menciumi saya di sekitar
kening, lalu pelan-pelan ke mata, ke hidung, ke pipi. Saya
berkesimpulan tante saya ini mulai bernafsu, dan keputusan saya hanya
menikmati serangannya dan berusaha tetap pasif namun kooperatif.
Pelan-pelan saya dongakkan kepala, sehingga ia berhasil mencapai
bibir saya. Kini dia tidak lagi sekedar merangkul tetapi mulai agak
menindih dan dengan ganasnya menyedot mulut saya, dan memainkan
lidahnya ke dalam mulut saya. Saya merespon seadanya, sebagai tanda
saya menghormati inisiatifnya. Untungnya kamar mbah saya ini di bagian
depan rumah, jadi dekat dengan jalan, sehingga suara-suara lalu lintas
di jalan membuat kamar ini tidak hening. Jadi jika pun ada suara-suara
yang keluar dari cumbuan kami, hampir pasti tidak terdengar ke atas.
Saya baru sadar jika payudara yang menempel di dada saya ini tidak
dilapis BH. Dan untungnya dia mengenakan daster dengan kancing di depan
dan belahan dadanya agar rendah. Tante saya ini aktif sekali, dia buka
pelan-pelan kancing piyama saya dan dia ciumi dada dan puting susu
saya. Aduh gelinya dan rangsangannya sulit saya pendam lagi.
Tiba-tiba ditariknya kepala saya ke bagian dadanya, dan sepertinya
dia menyuruh saya menciumi bagian dadanya. Dia pun membuka satu persatu
kancing di dadanya. Ya ampun, payudaranya kenyal sekali. Putingnya yang
masih kecil saya jilati dan sedot bergantian kiri dan kanan. Dia
seperti kepedasan, tapi mendesisnya berbeda.
Tangannya perlahan-lahan merambat ke selangkangan saya. Dia meraba
adik saya dari bagian luar celana yang rasanya sudah mau meledak.
Dikucel-kucelnya celana saya dengan gerakan hiperaktif. Saya jadi pecah
konsentrasi menciumi payudaranya, sehingga akhirnya saya posisikan diri
telentang. Dengan demikian tanggannya lebih leluasa meraba anu saya
dari luar. Dia tidak puas pelan-pelan mencari celah untuk memasukkan
tanggannya ke dalam celana saya. Digenggamnya rudal saya, dan
dikocok-kocok. Saya menjadi sangat terangsang. Tetapi saya berhasil
mengendalikan diri agar tidak cepat muncrat.
Dilucutinya celana saya sehingga rudal tegak bebas siap
diluncurkan. Sementara itu tangannya membimbing tangan saya mengarahkan
ke vaginanya. Saya turuti tanpa perlawanan, dan segera mencari segitiga
emasnya. Saya raba dari bagian luar dasternya, dan pelan-pelan saya
tarik dasternya ke atas sehingga tangan saya dapat menyentuh CD-nya.
Celananya terasa agak lembab terutama di bagian bawah. Tangan saya
berusaha mencari jalan ke dalam celana dalamnya dan mendapati gundukan
dengan bulu tipis dan belahan yang basah.
Segera saya cari klitorisnya. Dia lalu tidur telentang sambil
berusaha melepas CD-nya sendiri. Setelah tanpa CD dia memberi
keleluasaan tangan saya mengucek-ucek klitroisnya. Dalam hal mengucek,
saya telah memiliki ketrampilan, sehingga gerakan saya sangat
diresponnya dengan rangsangan yang semakin hebat dirasakannya. Dia kini
tidak lagi mengocok-kocok rudal saya, sudah lupa kali.
Tidak lama kemudian tangan saya dijepitnya dengan kedua paha dan
tangannya menekan tangan saya ke kemaluannya. Saya berhenti
mengucek-ucek. Vaginanya terasa berdenyut-denyut seperti denyutan kalau
rudal saya memuntahkan pelurunya. Dalam keadaan orgasme itu saya segera
menyergap mulutnya, dan saya sedot kuat-kuat. Dia sampai
terengah-engah, dan saya kembali telentang sambil rudal tetap siaga di
tempatnya. Saya pasrah saja tidak lagi mengambil inisiatif apa-apa.
Sekitar 5 menit kemudian dimiringkan badannya menghadap saya. Dan
saya pun ditariknya agar juga miring menghadap dirinya. Ditepatkan
vaginanya ke rudal saya, dan kakinya sebelah naik ke badan saya. Rudal
saya digesek-gesekkan ke vaginanya, dan sesekali dia usahakan
dimasukkan ke dalam liang vaginanya. Tapi usaha memasukkan itu selalu
gagal, karena sempitnya liang senggama itu. Saya pasrah saja. Habis
kolong tempat tidur itu begitu rendah, sehingga tidak mungkin saya
mengambil posisi menindihnya.
Linu juga rasanya kepala rudal ini digosok-gosokkan ke arah
klitorisnya, tetapi dia sangat menikmati sampai akhirnya dia kelojotan
sendiri karena orgasme. Saya tetap pada posisi nanggung, sementara dia
sudah 2 kali Orgasme. Apa boleh buat lah, tidak ada kesempatan dalam
kesempitan. Tiba-tiba dia keluar dari kolong menuju kamar mandi.
Barangkali mencuci kemaluannya karena sudah belepotan dengan cairannya
sendiri.
Tidak lama kemudian dia masuk kembali, dan segera menyusup ke bawah
kolong. Tapi dia tidak langsung di sisi saya, posisinya nanggung, dan
mulutnya dekat sekali ke rudal saya yang sudah kembali berada di balik
celana, meski voltase-nya belum turun. Ditariknya celana saya
pelan-pelan, dan segera disergap peluru kendali itu dengan sedotan yang
sangat kuat. Rasanya seluruh saluran mani dan kencing bagai ditarik
keluar, linu geli dan enaknya bukan main.
Perlahan-lahan dan hati-hati dia memposisikan liang senggamanya
menghadap ke mulut saya, dan dia tarik badan saya sampai pada posisi
miring. Saya tahu maksudnya, agar saya menciumi kemaluannya. Dan
astaga.., ketika saya buka dasternya ke atas, dia tidak lagi mengenakan
CD dan vaginanya bau wangi sabun. Pelan-pelan saya julurkan lidah saya
ke arah belahan kemaluannya, dan mencari klit-nya. Kepala saya dijepit
diantara kedua pahanya, sehingga saya susah bergerak. Sementara rudal
masih terus dilomoti dan disedot.
Saya temukan klit-nya, dan perlahan-lahan saya jilati terus menerus
dengan gerakan yang sedapat mungkin konstan. Dia semakin semangat
menghisap rudal saya, saya pun makin tinggi, mungkin dia juga karena
gerakannya makin tidak terkontrol. Saya menikmati gerakannya yang
sedang terangsang, saya jadi makin terangsang dan siap meledak. Tidak
lama berselang, saya pun meledak tetapi saya berusaha terus menjilati.
Mendapati ledakan saya rupanya dia pun terpicu pada orgasme karena
tiba-tiba kepala saya dijepit sekuat-kuatnya.
Saya tidak tahu apakah mani saya ditelan atau tidak, karena saat
mau meledak tadi saya tidak beri aba-aba, tetapi ketika meledak pun dia
tidak melepaskan rudal saya. Sesaat tembakan terakhir saya, kepala
rudal ini rasanya ngilu luar biasa sehingga saya menahan kepalanya agar
tidak bergerak. Lemas rasanya badan saya seperti habis lari marathon 10
km. Saya tidur telentang dan rasanya dia mengelap mani saya yang
tercecer dengan kain, yang mungkin sudah disiapkan.
Hampir setiap malam kami melakukan seperti itu. Dan polanya selalu
serupa. Sampai suatu malam kami menikmati yang lebih leluasa. Pasalnya
mbah berdua menginap di salah satu rumah anaknya. Jadilah kami yang
harus tidur berdua di tempat tidur mbah.
Kami masuk ke kamar tidur seperti biasanya sekitar jam 10 malam.
Pintu langsung dikunci dan kamar gelap gulita. Kami memulainya dengan
cumbuan berat sampai akhirnya telanjang bulat berdua. Dia mengarahkan
badan saya agar menindihnya dan kakinya dilebarkan dan ditekuk sehinga
lubang vaginanya terbuka lebar. Pelan-pelan dituntunnya rudal saya ke
arah lubang vaginanya yang telah siaga.
Saya terus terang tidak tahu apakah dia perawan atau tidak, tetapi
nyatanya memperjuangkan kepala rudal masuk ke lubang vaginanya susahnya
bukan main. Setelah kepala rudal terbenam, pelan-pelan saya dorong
tetapi masih sulit, meskipun dia sudah membuka selebar-lebarnya. Sambil
saya tekan pelan, saya lebih tegangkan rudal saya sampai menjadi sangat
kaku. Cara ini ternyata mampu menembus ke dalam gua lebih dalam. Tetapi
tetap saja ada halangan. Dia agak merintih sambil berbisik, sakiitt.
Saya tahan setengah jalan, mungkin baru sepertiga perjalanan. Lalu saya
tekan sedikit sambil kembali menegangkan rudal, masuk lagi sedikit.
Rasanya sudah setengah batang saya terbenam. Dia tahan lagi badan saya
karena katanya sakit. Saya pun menahan, lalu menarik sedikit dan
mendorong sedikit. Jadi untuk beberapa saat kami main setengah tiang.
Dia mulai merasa nikmat dengan permainan setengah tiang itu, sementara
saya merasakan nikmat yang tanggung.
Sambil menarik dan mendorong, saya mencuri dorongan lebih banyak
dan seperti gerakan piston, ternyata batang saya mulai lebih jauh
terbenam. Meskipun begitu, masih ada seperempat bagian yang tersisa
masih belum dapat masuk karena terhalang sakit. Saya kembali bermain
tigaperempat tiang, dan pada satu kesempatan setelah gerakan itu licin,
saya hunjam sampai seluruh batang saya tertanam. Merdeka, saya
berhasil, meski dia mendesis rada kesakitan. Saya berhenti untuk
memberi kesempatan agar rasa sakitnya berkurang. Pelan-pelan saya
gerakkan maju mundur lagi. Kini dia tidak lagi merasakan sakit seperti
semula. Tapi mungkin masih ada sakit meski sedikit. Saya lakukan
gerakan pelan sambil mencari posisi yang tepat.
Sampai pada posisi dimana dia memberi respon saya bertahan di
posisi itu. Tidak lama kemudian dia mengunci badan saya dan saya
rasakan vaginanya berdenyut, padahal saya juga sudah hampir dan sudah
lari pada persneling 5. Kini terpaksa kembali ke posisi netral dan maju
lagi perlahan-lahan dengan persneling satu, dua sampai lima saya
pusatkan perhatian karena saya sudah hampir meledak. Saya tidak lagi
dapat memikirkan apa-apa ketika rudal saya hampir meledak, dia malah
kelojotan dan berdenyut-denyut vaginanya membuat ledakan saya bagaikan
bom atom. Mungkin kami mencapai orgasme yang sama.
Saya tidak lagi dapat menimbang harus ditembak di dalam atau di
luar, pokoknya pada saat itu rasa enak sudah mengalahkan semua
pertimbangan. Malam itu kami main sampai 3 kali. Celakanya atau
untungnya mbah menambah hari menginapnya sehingga malam kedua kami
mengadakan reli dan memecahkan rekor saya 9 kali ejakulasi, dia entah
berapa kali, karena saya tidak mampu menghitung, apalagi permainan saya
makin lama untuk ronde-ronde berikutnya. Pada ejakulasi yang kesembilan
rasanya tinggal angin saja yang keluar dari peluru kendali ini.
Seharian itu kemudian saya tidur kecapaian, selain membalas tidur
malam yang terbengkalai, juga memulihkan tenaga yang musnah. Meskipun
sudah demikian jauh kami berbuat, tetapi jika di hadapan
saudara-saudara kami tidak berubah sikap, artinya saya tetap saja
menganggap dia tante saya dan saya keponakannya. Tapi di balik itu kami
punya cerita yang dahsyat. Setelah reli itu saya sampai sekarang tidak
pernah mampu lagi mencapai 9 kali dalam semalam meskipun dengan wanita
yang lain.
|